New here? Register. ×
×

Terminal Keude Aceh Lhokseumawe Belum Miliki Kamar Mandi dan Toilet 

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in DAERAH, EKONOMI
05Feb

RUBERNEWS.COM | Pekerja loket angkutan umum antar kota dalam propinsi Aceh di terminal labi-labi Keude Aceh, Kota Lhokseumawe, mengeluhkan ketiadaan fasilitas umum berupa kamar mandi dan toilet umum. Kondisi ini dinilai tidak baik karena akan mengundang perilaku dan praktek “wc terbang” di terminal tersebut.

“Tidak ada fasilitas kamar mandi umum dan toilet. Padahal ini kebutuhan utama” tutur seorang pekerja loket armada L300 ketika ditemui rubernews.com di lokasi, Selasa sore (5/2/2019).

Sebelumnya, Pemerintah Kota Lhokseumawe menertibkan loket angkutan umum yang tersebar di beberapa titik dalam wilayah Kota Lhokseumawe untuk diintegrsikan ke terminal labi-labi Keude Aceh. Angkutan umum yang dipindah ke terminal ini yaitu jenis L300, jumbo, minibus berbadan sedang seperti BE dan tentunya labi-labi.

Di dalam komplek terminal Keude Aceh ini pemerintah mendirikan bangunan yang diperuntukkan bagi loket jasa angkutan umum. Bangunan tersebut terdiri dari 3 blok membentuk letter U menghadap ke peron penumpang yang berada di tengah. Satu blok disekat 4 hingga 8 pintu ruangan berukuran 4×3 meter.

Pekerja loket yang dijumpai, mengaku puas dengan kondisi bangunan serta kompensasi atas upaya penertiban ini. Ia hanya berharap, Pemko Lhokseumawe dapat  membangun kamar mandi dan toilet umum bagi para penumpang dan pekerja, layaknya sebuah terminal.

“Jangan sampai ada kejadian wc terbang nantinya di lokasi ini” kata pria paruh baya, yang mengaku sudah puluhan tahun bergelut di dunia jasa pengangkutan.

Menanggapi keluhan para pemilik atau pekerja loket angkutan umum, Kepala Dinas Perhubungan Kota Lhokseumawe, Mulyanto menyebut keluhan itu sudah ada solusi. Ia mengatakan, pemerintah akan segera membangun kamar mandi dan fasilitas umum lainnya melalui anggaran tahun ini.

“Bangunan ini dari dana Otsus 2018. Tahun ini sudah kita usulkan untuk pembangunan fasilitas yang disebutkan tadi, lalu ada penambahan bangunan loket dan rehab peron tempat tunggu penumpang. Untuk sementara, kami arahkan penumpang dan pekerja loket kalau mau ke kamar mandi boleh menggunakan fasilitas di kantor ini” kata Mulyanto di ruang kerjanya yang berada di sisi timur komplek terminal Keude Aceh.

Ia berharap kepada awak armada agar dapat bersabar dengan kondisi yang ada saat ini, sembari dicarikan solusi oleh pemerintah.

“Semangat kita untuk menata dan menertibkan agar Kota Lhokseumawe tidak semrawut. Kami mohon bersabar dan kami juga mengharapkan dukungan semua pihak, agar proses pemindahan seluruh loket L300 dan sejenis di kota Lhokseumawe dapat berjalan efektif,” tutur dia.

Bahkan, agar seluruh angkutan umum antar kabupaten/kota bersedia pindah ke lokasi ini, Pemko memberikan kompensasi dengan menggratiskan biaya sewa bangunan di tahun pertama.

Keseriusan pemko Lhokseumawe ini, kata Mulyanto, demi mengurai kemacetan seperti yang terjadi di jalan lintas nasional di kawasan Cunda dan jalan protokol lainnya.

“Sesuai qanun, Pemko baru akan mengutip biaya sewa tahun depan, tahun ini digratiskan. Tahun 2020 mereka baru bayar sewa Rp1 juta per tahun. Ini kompensasi yang kita berikan” ungkap Mulyanto.

Kepala terminal Keude Aceh, Raziansyah, SE menambahkan terhitung sejak 1 Februari 2019, armada L300, jumbo dan sejenisnya diwajibkan masuk terminal Keude Aceh. Razi menyebut, pihaknya telah melakukan pendekatan persuasif kepada seluruh pemilik jasa angkutan umum agar bersedia pindah ke terminal ini.

“Dalam satu bulan ini kita terus lakukan pendekatan kepada pihak loket agar bersedia pindah kemari. Sudah ada 23 loket yang diisi, lalu ada 4 loket di lokasi sementara, sambil menunggu bangunan baru lagi. Kita juga sedang melengkapi fasilitas pendukung yang dibutuhkan terminal ini” tutur dia.

Sharing is caring