New here? Register. ×
×

Kasus Pencabulan Anak Hingga Hamil di Aceh Tengah Terungkap, Keluarga Enggan Melapor

no comments
25Jan

RUBERNEWS.COM | Kasus dugaan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur hingga menyebabkan korban hamil di Aceh Tengah diungkap oleh Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pelaku yang masih memiliki hubungan kerabat dekat korban, saat ini masih bebas berkeliaran karena orang tua korban enggan melaporkan kasus ini ke polisi.

Kasus pencabulan terhadap anak ini terungkap pada 15 Desember 2018. Ketika itu, sebutlah Bunga (15 tahun, nama samaran) warga salah satu desa di Kecamatan Ketol, mengeluhkan rasa sakit di bagian perutnya. Bunga, kemudian dibawa ke Bidan Desa hingga dilakukan USG di salah satu praktek Dokter Spesialis Kandungan di Takengon. Hasil diagnosa, bunga dinyatakan hamil dengan janin yang sudah berumur 6 bulan.

“Pelaku berinisial L, 67 tahun. Dia itu masih saudara korban, yakni suami dari kakak ayah korban. Masih dipanggil paman,” tutur Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dra Nani Samsul Nahar kepada rubernews.com, Kamis (24/1/2019) di Takengon.

Akan tetapi, keluarga korban tidak melaporkan kasus ini ke pihak berwajib sehingga pelaku masih bebas berkeliaran. Seolah tak ingin menerima malu, kasus ini terkesan ditutupi oleh keluarga kedua belah pihak.

Justru kian menjadi sumir, ketika pihaknya, kata Nani, mendapati kasus ini diselesaikan secara damai kekeluargaan di kampung mereka. Nani menilai perdamaian itu, cacat hukum. “Kasus ini tidak boleh diselesaikan di kampung, ini hanya bisa diselesaikan oleh penegak hukum” kata dia.

Pihaknya telah pula mengunjungi keluarga korban dan mendorong pihak yang dirugikan agar melaporkan kasus pencabulan itu.

“Setelah kami turun beberapa kali untuk melakukan mediasi dengan keluarga korban, kami kecewa dan kaget seperti dibela. Bahkan keluarga korban enggan melaporkan kasus tersebut ke pihak yang berwajib,” timpal Nani.

Saat ini pihaknya telah melaporkan kasus tersebut ke Polres Aceh Tengah untuk ditindak lanjuti. Bahkan ia bersama Heny Januarti, S.Pd dari unsur Balai Syura dan Paralegal P2TP2A Aceh Tengah telah membeberkan kasus tersebut kepada Bupati Aceh Tengah, Drs. Shabela Abubakar.

“Kami telah meminta saran dari Bupati Aceh Tengah menyangkut masalah ini, karena sudah beberapa kali kami turun ke lapangan kami belum mendapatkan hasil apa-apa. Karena keluarga korban menolak untuk dilakukan visum, bahkan lebih parahanya lagi, seolah-olah kasus ini didukung untuk tidak terungkap ke permukaan” jelas Nani.

Ia berharap keluarga korban bersedia mematuhi prosedur hukum yang ada. “Baru kali ini kami temukan kasus pencabulan ditutup-tutupi, semoga keluarga korban bersedia mematuhi proses hukum yang ada,” tandasnya.

Terpisah, Bupati Aceh Tengah ketika dimintai tanggapan mengaku prihatin atas kejadian yang menimpa anak di bawah umur tersebut. Ia meminta kepada keluarga korban untuk tidak menutup-nutupi kasus pencabulan itu. “Kasus ini jangan dilindungi, laporkan. Siapa tahu ada orang lain yang menjadi korban” kata Shabela.

Ia juga berpesan kepada masyarakat setempat untuk tidak menutupi kasus itu karena dapat membahayakan. “Seharusnya masyarakat tidak boleh diam dengan masalah ini, suarakan,” katanya.

Sebagai langkah tindak lanjut pemerintah, kata Shabela, dirinya akan memanggil Camat Ketol dan Reje (kepala desa) kampung setempat untuk menjelaskan kejadian tersebut. “Saya akan panggil Camat dan Rejenya” pungkas Shabela Abubakar.

Sharing is caring