New here? Register. ×
×

M Nur Djuli Perkenalkan Buku ‘Road To Helsinki’

no comments
04Jan

Rubernews.com | Penulis buku, M. Nur Djuli, mengelar diskusi sekaligus mempromosikan buku terbarunya dengan judul “Road To Helsinki” di salah satu cafe Jln Lilawangsa Gampong Paya Bujok Tunong, Kecamatan Langsa Kota, Kamis (3/1).

Ketua Panitia, Sri Rahmayanti SE yang juga sebagai moderator mengatakan, buku tersebut merupakan karya dari salah seorang tokoh perdamian Aceh yang terlibat langsung menjadi juru runding dari perwakilan Aceh kala itu. Selain terlibat dalam proses pedamaian Aceh antara Getakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah RI kala itu, ia juga telibat proses perdamaian yang berlangsung di Jenewa, Tokyo, CoHA hingga Helsinky Filandia.

Dikatakan, kegiatan tersebut bertujuan selain menjadi wadah baru untuk sharing informasi bersama masyarakat, sekaligus mempromosi buku tersebut.

“Kita berharap ini menjadi penambahan wacana tentang ke-Acehan. Khususnya hubungan RI dengan Aceh serta perjalanan panjang GAM yang disokong berbagai lembaga internasional, dalam merintis upaya damai,” tuturnya.

Ia menyebut, kegiatan dimaksud bertujuan mengingat sejarah dan dapat mengungkap fakta baru yang selama ini banyak hal yang belum diketahui masyarakat. Baik sesudah maupun sebelum gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 lalu.

“Ini merupakan buku pertama yang ditulis oleh salah seorang juru runding GAM,” ulasnya.

Sementara, Ketua Forum Peduli Rakyat Miskin ( FPRM) Nasruddin, disela sela diskusi mengatakan, buku tersebut akan menambah wawasan tentang sejarah perdamaian Aceh pasca konflik.

Kedepan, Nasruddin berharap, kedepan anak-anak muda Aceh lebih banyak menulis buku tentang sejarah dalam mempertahankan perdamaian di Aceh, sehingga generasi kedepan mampu merawat perdamaian yang telah dicapai oleh generasi pendahulunya.

Kegiatan ini turut dihadiri M. Nur Djuli penulis buku,”The Long and Winding Road To Helsinki, Aceh Dalam Perang dan Damai,” sejumlah eks kombatan GAM,  para aktifis kemanusian, mahasiswa,  perwakilan partai lokal (parlok) yang berada di wilayah Kota Langsa, Aceh Timur dan Aceh Tamiang serta unsur lainnya.

Ketua Panitia Sri Rahmayanti SE selaku pelaksana dan moderator diskusi mengatakan, buku ini karya dari salah seorang tokoh perdamian  Aceh yang terlibat langsung menjadi juru runding dari perwakilan Aceh, waktu itu terus terlibat dalam proses pedamaian Aceh antara GAM-Pemerintah RI pada masa Aceh masih didera konflik (perang), baik sejak proses damai itu berlangsung di Jenewa, Tokyo, CoHA, hingga Helsinky Filandia.

Lanjutnya, Kegiatan tersebut bertujuan, selain menjadi wadah baru untuk sharing informasi bersama masyarakat sekaligus mempromosi buku tersebut. Sehingga, menjadi penambahan wacana tentang ke-Acehan, khususnya hubungan RI dengan Aceh serta perjalanan panjang GAM yang disokong berbagai lembaga internasional, dalam merintis upaya damai.

Ia menyebut, kegiatan dimaksud bertujuan mengingat sejarah dan dapat mengungkap fakta baru yang selama ini banyak hal yang belum diketahui masyarakat, baik sesudah maupun sebelum gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. “Ini merupakan buku pertama yang ditulis oleh  salah seorang juru runding GAM,” ulas Sri Rahmayanti.

M. Nur Djuli, penulis buku tersebut menceritakan perjalanan penulisan buku itu. Diceritakannya, Puncak dari segala kehebatan proses tersebut mempercayakan semua urusan penerbitan dan publikasi kepada CV. Kawat Publishing yang merupakan sebuah penerbit buku yang berbasis di Aceh.

“Kepercayaan ini merupakan bentuk dari komitmen yang besar  untuk membangun Aceh sekaligus membangun apa saja yang ada di Aceh, termasuk membantu membesarkan usaha-usaha yang dirintis oleh putra-putri Aceh, sesuai dengan kapasitas yang dimiliki,” tuturnya.

Disebutkan, buku setebal 392 halaman itu memang lebih banyak membahas jejak sejarah Aceh Perang hingga Damai yang dibandrol seharga Rp130 ribu.

“Buku ini tentu sangat erat kaitannya dengan ‘subjektifitas’ penulisnya, akan tetapi, sebagai sebuah buku sejarah, memberikan garansi untuk tidak melebihkan dan mengurangi isi kandungan dari sejarah itu sendiri.

“Karenamenuliskan buku ini apa yang pernah saya alami, rasakan dan lakukan, yang tentu akan berbeda dengan apa yang dirasakan oleh orang lain,” papar mantan juru runding GAM ini yang juga alumni Bidang Jurnalistik Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan Ecole Superieure de Jurnalisme Paris.

Disebutkan, Jika pun membaca buku tersebut, diharapkan agar membaca dari awal hingga akhir.

“Semoga buku indapat menjadi panduan dalam memahami Aceh, khususnya tentang perjalanan upaya perdamaian yang menghasilkan MoU Helsinki, Finlandia”

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua,” pungkas M Nur Djuli.

Sharing is caring