New here? Register. ×
×

Zikir, Doa Bersama Hingga Pengibaran Bendera Bintang Bulan Warnai Milad GAM di Lhokseumawe

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in DAERAH, HUKUM, POLITIK
04Des

RUBERNEWS.COM | Peringatan hari lahir (milad) Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ke 42 tahun 2018 di Kota Lhokseumawe yang dilaksanakan oleh Komite Peralihan Aceh (KPA) Kuta Pase diwarnai dengan sejumlah kegiatan. Zikir dan doa bersama serta santunan anak yatim melengkapi kegiatan seremoni pengibaran Bendera Bintang Bulan.

Milad ke 42 KPA Kuta Pase dipusatkan di Masjid Jamik Kemukiman Kandang yang terletak di Gampong Meunasah Manyang, Kecamatan Muara Dua, Selasa (4/12/2018).

Selain Panglima KPA Kuta Pase Mukhtar Hanafiah alias Ableh Kandang beserta jajarannya, turut hadir Ketua DPRK Lhokseumawe, M. Yasir Umar, Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, Wakil Wali Kota Yusuf Muhammad, Sekdako Bukhari AKS, Kadis Sosial Drs. Ridwan Djalil dan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Nasruddin serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemko Lhokseumawe.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 10:00 WIB dimulai dengan zikir dan doa bersama. Lantunan kalimah suci menghadirkan kesejukan bagi dua ratusan orang yang hadir dari berbagai kalangan masyarakat.

Wali Nanggroe Teungku Malik Mahmud Al Haytar dalam kata pidato sambutannya yang dibacakan Heriansyah atau Heri POM mengatakan, sejak dideklarasikan pada 4 Desember 1976 di Gunung Tjokkan di Kabupaten Pidie hingga berakhirnya konflik bersenjata antara pemerintah RI dan GAM pada 15 Agustus 2005 perjuangan belumlah berakhir.

Lalu setelah 13 tahun perjanjian damai tersebut ditandatangani, Malik Mahmud menyebut sejumlah turunan MoU Helsinky yang termaktub pada UU Nomor 11 tahun 2006 belumlah terlaksana. Salah satunya adalah persoalan bendera sebagai wujud kekhususan Aceh yang harus diselesaikan agar bendera tersebut dapat dikibarkan di seantero propinsi paling barat Indonesia ini.

“Seharusnya pemerintah tidak perlu terlalu sensitif dan sentimentil terhadap hal ini” tutur Heri POM mengutip pidato Wali Nanggroe.

Selain Masalah bendera, Malik Mahmud dalam pidatonya juga menyinggung lembaga wali nanggroe yang belakangan dipersoalkan oleh pihak-pihak tertentu. Malik Mahmud mengutip isi pasal 96 UUPA yang menjelaskan “Lembaga Wali Nanggroe (LWN) merupakan kepemimpinan adat sebagai pemersatu rakyat Aceh yang bersifat independen dan berwibawa. LWN bukan lembaga politik dan lembaga Pemerintahan di Aceh”

“Jika ada golongan atau individu dan pihak-pihak tertentu yang menginginkan atau memiliki ide untuk pembubaran atau pen-degredasian LWN, kelompok ini adalah mereka yang tidak ingin Aceh bersatu, damai dan bermartabat. Mereka adalah golongan yang mengkhianati kepentingan rakyat Aceh, mengkhianati perjuangan pra pejuang Aceh yang telah gugur. Mengkhianati dan mengangkangi Konstitusi Negara Republik Indonesia dan UU Pemerintahan Aceh” tutur Wali Nanggroe dalam pidatonya.

Di bagian akhir pidatonya, Malik Mahmud meminta jajaran KPA dan Partai Aceh untuk dapat meningkatkan perolehan suara pada Pemilu Legislatif tahun 2019 mendatang. “Hanya dengan kemenangan Partai Aceh, kita dapat menentukan arah pembangunan ekonomi dan infrastruktur Aceh mendatang sesuai dengan cita-cita yang kita perjuangkan” demikian pidato Malik Mahmud yang dibacakan Heri POM.

Selain pembacaan pidato dari Wali Nanggroe, rangkaian acara juga digelar dengan penyampaian kata sambutan dari Panglima KPA Kuta Pase yang disampaikan oleh Suaidi Yahya. Dalam kata sambutannya, Wali Kota Lhokseumawe itu juga menyampaikan harapan yang besar kepada masyarakat agar tetap memberikan dukungan kepada Partai Aceh.

Baca Juga : Bendera Bintang Bulan Berkibar di Milad GAM Kuta Pase

Kegiatan selanjutnya diisi dengan penyampaian tausyiah oleh Tgk Mukhtar dari Pusong dan diakhiri dengan penyantunan anak yatim.

Sementara kegiatan berakhir di dalam masjid jamik tersebut, sekelompok pria berbadan tegap terpantau menggelar upacara pengkerekan bendera bintang bulan di halaman masjid.

Upacara yang dilangsungkan oleh 5 orang pria dengan pakaian putih hitam dilengkapi dengan selempang warna identik itu dikomandoi oleh Misbahuddin Ilyas atau Marcos dan disaksikan oleh ratusan warga di lokasi.

Bendera berukuran 1,5 x 1 meter itu terlihat dikerek perlahan di tiang besi setinggi lebih 7 meter dan diiringi lantunan kumandang adzan.

Bendera bintang bulan terpantau berkibar hanya beberapa menit saja. Hal ini karena setelah prosesi seremoni pengibaran bendera selesai, aparat dari Polres Lhokseumawe dan Kodim 0103 Aceh Utara mendatangi lokasi dan menghimbau warga agar menurunkan bendera tersebut. Atas inisiatif sendiri, bendera yang menjadi p[olemik sejak ditetapkan sebagai bendera Aceh pada tahun 2013 lalu itu akhirnya diturunkan secara sukarela oleh warga setempat.

Sharing is caring

Tinggalkan Balasan