New here? Register. ×
×

Peringati Milad GAM Ke-42, PPKPA Aceh Jaya Kibarkan Bendera Bintang Bulan

no comments
Written by Redaksi 1 | Published in DAERAH, SIARAN PERS
04Des

Rubernews.com | Satuan Tugas Putra Putri Komite Peralihan Aceh (PPKPA) Kabupaten Aceh Jaya ikut menggelar upacara peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ke-42. Acara ini digelar di Kota Calang, Aceh Jaya, Selasa (4/12/2018).

Tanggal 4 Desember merupakan hari bersejarah bagi rakyat Aceh, dimana pada tangga itu perlawanan rakyat Aceh menuntut kemerdekaan dari Indonesia melalui Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dideklarasikan yang dipimpin oleh Almarhum Tgk Hasan Muhammad Di Tiro.

Namun perlawanan bersenjata GAM terhenti pada tanggal 15 Agustus 2015 silam. GAM dan Pemerintah Republik Indonesia menandatangani perjanjian damai yang dikenal dengan MoU Helsinki. Kini rakyat Aceh menuntut janji Pemerintah Indonesia untuk merealisasikan buti-butir MoU Helsinki, salah satunya adalah mengizinkan bendera Bintang Bulan sebagai bendera Aceh untuk dikibarkan di seluruh penjuru Aceh.

Pada peringatan Milad GAM ke-42 dini hari tadi, putra putri GAM di Aceh Jaya yang terhimpun dalam PPKPA, disamping melakukan doa bersama atas terwujudnya perdamaian yang sudah berumur 13 tahun, mereka juga ikut mengibarkan bendera Bintang Bulan yang merupakan bendera Aceh.

Ketua Umum PPKPA Aceh Jaya, Azis Muhajir, S.Fil.I.,M.Ag mengatakan, pengibaran bendera Bintang Bulan adalah legal karena sudah terdaftar dalam lembaran negara melalui UUPA yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) beberapa tahun lalu.

“Upacara peringatan Milad GAM ke-42 yang kita lakukan hari ini adalah bentuk dukungan politik agar pemerintah pusat ikhlas terhadap bendera Aceh. Qanun Aceh No. 3 Tahun 2013 tentang bendera Bulan Bintang telah mendapat persetujuan bersama antara Gubernur Aceh dan DPRA, serta telah diundangkan dalam Lembaran Daerah. Sehingga secara hukum bendera tersebut sah menjadi Bendera Aceh, milik rakyat Aceh,” ujar Azis Muhajir melalui siaran pers kepada media ini.

Dalam kesempatan tersebut, Azis turut mengharapkan itikad baik dari Presiden Republik Indonesia untuk menyelesaikan amanah MoU Helsingki dengan merelakan rakyat Aceh merdeka dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Saya berharap ada itikad baik dari bapak Presiden untuk menyelesaikan puing-puing konflik yang masih tersisa di Aceh. Biarkan rakyat Aceh merdeka dalam bingkai NKRI,” harapnya.

Azis juga meminta Pemerintah Indonesia untuk sejenak membuka lembaran sejarah, dimana dulunya Aceh tanpa harus perang rela dan ikhlas bergabung dengan Republik Indonesia karena atas dasar Islam dan persatuan. Menurutnya, rakyat Aceh tidak akan melawan dan memusuhi Indonesia bila haknya diakui.

“Masih ingat ketika Presiden Suekarno menangis saat datang ke bumi Serambi Mekkah? Rakyat Aceh adalah yang terdepan dalam membantu dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Aceh sudah cukup dipermainkan secara politik, pemerintah pusat harus berbaik hati untuk memberikan segala kewenangan Aceh yang sudah disepakati bersama dalam nota kesepahaman MoU Helsinki,” pungkasnya.

Sharing is caring

Tinggalkan Balasan