New here? Register. ×
×

Kiprah Tahun Pertama Bupati Shabela Pimpin Aceh Tengah

no comments
30Nov

RUBERNEWS.COM | Sejak dilantik pada 28 Desember 2017 yang lalu, kiprah kepemimpinan Drs. Shabela Abubakar dan Firdaus, SKM sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tengah mulai terlihat. Kendati masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, namun pasangan calon yang berhasil mengalahkan petahana pada Pilkada 2017 lalu itu terus berbenah.

Meski menuai kritikan di tahun pertama pemerintahan, Shabela Abubakar secara perlahan mulai menunjukan kiprah dan kepiawaiannya dalam membangun daerah. Memiliki leadership yang kuat serta dilatari pengalaman sebagai seorang birokrat selama menjadi Camat Silihnara, berdampak pada setahun kepemimpinannya yang dapat berjalan seimbang. Efektifitas terhadap hasil pencapaian kinerja setidaknya mampu mengenyahkan pesimisme dari segelintir kalangan.

Menjelang satu tahun masa jabatan Shafda (Shabela-Firdaus), sejumlah prestasi mulai dihasilkan. Kinerja tata kelola pemerintahan yang baik dibarengi dengan kepedulian terhadap upaya pelestarian culture masyarakat Gayo mendapat dukungan oleh segenap pihak. Tak terlupa, kepeduliannya terhadap komuditas utama, Kopi, sebagai penopang ekonomi masyarakat dataran tinggi di Aceh ini, kian mendapat tempat di hati masyarakat.

Beberapa prestasi yang diraih diantaranya, menerima opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) ke-9 bagi Aceh Tengah, yang diserahkan langsung oleh Kepala Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Aceh, Isman Rudi pada Bulan Mei 2018 yang lalu di Banda Aceh. (WTP) yang ke-9 kalinya itu atas Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Keuangan tahun anggaran 2017 dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Opini WTP yang diraih Aceh Tengah pertama sekali untuk tahun anggaran 2007, kemudian tahun 2008, 2009, 2010, 2012, 2014, 2015, 2016 dan terakhir yang kesembilan tahun anggaran 2017.

Tak hanya itu, dibawah kepemimpinan Shabela dan Firdaus, Kabupaten Aceh Tengah juga menerima penghargaan dari Kanwil Kemenkumham Aceh dalam hal inventarisasi kekayaan intelektual komunal di bidang ekspresi budaya tradisional Tari Sining Gayo yang telah dicatat oleh Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI tahun 2018. Penobatan Tari Sining sebagai hak kekayaan intelektual komunal dan daerah pertama di Indonesia.

Selanjutnya, setahun masa jabatan Shafda, Aceh tengah dinilai terbaik dalam kerjasama di bidang fasilitasi penyusunan naskah akademik, penyusunan Qanun Kabupaten/Kota se Provinsi Aceh. Penghargaan Indonesian Good Governance Award 2018 (tata kelola pemerintahan yang baik) diterima Aceh Tengah dari Yayasan Nirwana Indonesia turut diterima beberapa bulan yang lalu di Jakarta.

“Semua penghargaan itu tak terlepas dari kerja keras semua pihak,” tutur Shabela saat berbincang bersama rubernews.com di Pendopo Bupati Aceh Tengah di Takengon, Kamis (29/11/2018).

Sosok yang terlihat serius dalam isu-isu terkait identitas daerah ini juga memperjuangkan Keni Gayo —hasil seni masyarakat Gayo yang terancam punah– sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada Pemerintah Aceh Tengah oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Keistimewaan Aceh, ADM dan Hubungan Kerjasama, Dr Iskandar APS, S.Sos, MSi di Jakarta beberapa Minggu yang lalu.

“Keni Gayo bagian kekayaan budaya masyarakat Gayo yang kembali harus dilestarikan. Selain memiliki nilai ekonomi juga dapat mendukung pariwisata di Aceh Tengah,” terangnya.

Bupati Aceh Tengah, Drs Shabela Abubakar saat berbincang bersama buyer di Jakarta, beberapa waktu lalu. Dok : Ist

Untuk komoditas utama yakni Kopi, Shabela Abubakar juga telah melanglang buana mempromosikan Kopi Arabika Gayo kepada dunia luar. Ia beranggapan tak cukup hanya sebatas petani saja yang jualan kopi tanpa dibarengi promosi oleh pimpinan daerah.

Saat ini kata Shabela, Kopi Arabika Gayo sudah booming ke berbagai Negara Uni Eropa dan berbagai negara di Asia Tenggara.  Di tingkat lokal, promosi juga akan terus dilakukan.

Tujuan dari gencarnya ia mempromosikan Kopi Gayo kepada dunia luar adalah untuk meyakinkan para buyer, agar membeli kopi Gayo dengan kualitas baik sehingga pasar kopi  semakin luas. Pada akhirnya, semakin yakin para pembeli terhadap kualitas Kopi Gayo akan menggenjot permintaan dan pasar semakin kompetitif.

“Pastinya akan memberi nilai tambah lebih besar bagi masyarakat petani kopi” jelasnya.

Dijelaskan, saat ini masih banyak yang harus dipelajari tentang komoditas kopi. Selain promosi, saat ini pihaknya akan fokus meningkatkan hasil produksi kopi masyarakat dari 700 kilogram per hektar menjadi 1200 kg/ha atau lebih.

Dataran tinggi Gayo punya potensi luas tanam terbesar di Asia, namun produksi Kopi masih relatif rendah.

“Salah satu solusinya, kebun induk harus segera direalisasikan. Disana nanti ada penangkaran bibit unggul yang sudah dianjurkan untuk dijual atau dibagikan kepada masyarakat. Ada proses pendidikan dan latihan serta pusat penelitian kopi. Ini akan segera kami wujudkan” jelas Shabela.

Begitu juga dengan hasil kerajinan Kerawang Gayo, yang mendapat perhatian serius oleh orang nomor satu di daerah berhawa sejuk itu. Kerajinan tradisional yang sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2014 silam, mulai diminati banyak kalangan.

“Contohnya di ajang Vietnam Internasional Cafe Show (VICS) yang berlangsung di Ho Chi Minh City beberapa bulan yang lalu, ternyata bukan hanya kopi yang memikat pengunjung, tapi juga Kerawang Gayo. Beberapa pengunjung Booth Kopi Gayo tidak sungkan meminta berfoto denga kami menggunakan ornamen Kerawang Gayo, seperti topi dan syal. Bahkan, ada pengunjung yang meminta Kerawang Gayo untuk dibawa pulang. Kerawang dan Kopi Gayo adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang akan terus kami promosikan ke luar daerah bahkan keluar negeri” ujar Shabela menegaskan keinginannya.

Tujuan dari memperkenalkan Kerawang Gayo adalah selain memperkenalkan corak keindahan kerajinan tangan yang dimiliki Aceh Tengah sekaligus untuk menambah pemasukan bagi pengrajin kain tenun di kabupaten yang ia pimpin itu.

Sebagai sosok yang dianggap low profile, bupati Shabela dalam wawancara eksklusifnya bersama wartawan rubernews.com, Karmiadi Arinos, juga menyinggung beberapa isu yang hangat dibicarakan di media sosial terkait dirinya yang berencana menganggarkan biaya pengadaan mobil dinas Bupati dan Wakil Bupati tahun anggaran 2018.

Namun ia membatalkan usulan tersebut demi kebutuhan masyarakat seperti pembangunan jembatan dan kebutuhan lainya.

Mobil dinas, kata Shabela, kebutuhan yang tidak terlalu mendesak hanya sebatas untuk melancarkan tugas sebagai abdi negara. Prinsipnya, dalam bekerja ia mengaku tidak harus dimanjakan dengan mobil dinas.

“Pada prinsipnya saya tidak harus dimanjakan dengan kendaraan dinas yang bermerk. Naik grek (kereta sorong-red) juga saya bisa. Zaman dulu saya sering naik grek yang didorong kawan se masa kecil,” ujar Shabela menamsilkan fungsi kendaraan sekaligus mengenang kisah jenaka masa lalunya di tanah leluhur.

Selain sejumlah prestasi dan capaian, saat ini pihaknya masih menggodok Takengon sebagai kota layak anak, orang tua dan pemuda. Bahkan masyarakat luar yang akan berkunjung ke daerah tersebut.

Ia telah merencanakan sedikitnya terdapat tiga tempat yang akan menjadi taman bermain anak di Takengon. Diantaranya, Lapangan Musara Alun, Area Tugu Aman Dimot halaman Kantor Bupati dan Lapangan Tenis Pendopo yang akan dibongkar dan dijadikan area publik.

“Kami sadar bahwa anak adalah investasi jangka panjang yang akan meneruskan dan menjaga kualitas kehidupan masyarakat di masa depan. Untuk itu, penting koordinasi atau kerjasama lintas sektor, antar instansi maupun keterlibatan masyarakat mewujudkan Aceh Tengah sebagai kabupaten yang layak anak, bahkan layak huni bagi seluruh masyarakatnya,” harapnya.

Di akhir, Shabela menyampaikan bahwa pembangunan sarana dan prasarana di Kabupaten Aceh Tengah tahun 2018, sedikit merosot.  Shabela menyebut kondisi iniini lanta tidak mengalirnya dana Otonomi Khusus di kabupaten berhawa sejuk itu.

Sharing is caring

Tinggalkan Balasan