New here? Register. ×
×

Mengenang Tragedi Kecelakaan Pesawat Jemaah Haji Indonesia di Kolombo Tahun 1978

no comments
15Nov

“Belum lepas kesedihan warga negara akibat kecelakaan pesawat DC-8 55F milik maskapai penerbangangan Belanda, Martin Air pada 4 Desember 1974 yang menelan 182 korban jiwa, kecelakaan kembali menimpa jemaah haji Indonesia 4 tahun kemudian di negara yang sama, Srilanka”

 

MENDADAK ada pemberitahuan tanda bahaya. Lalu, pesawat tergoncang keras dan … jatuh. Goncangan dan hempasan begitu keras. Teriakan dan rintihan terdengar dari berbagai sudut. Abi Karsa, wartawan Banjarmasin Post, buru-buru membuka sabuk pengaman dan mengajak isterinya keluar. Dia mencoba memecah kaca jendela tapi gagal. Istrinya melihat lobang di belakang. Ternyata ekor pesawat putus dan memberi celah yang lebar.

Keduanya pun keluar. Ledakan pertama terdengar. Mereka tiarap. Lari. Baru sekitar sepuluh meter, ledakan lagi dan mereka kembali tiarap. Mereka akhirnya sampai di rumah penduduk terdekat. Beberapa menit kemudian polisi, ambulan, dan pemadam kebakaran datang. Keduanya, juga korban selamat lainnya, dilarikan ke RS Negombo.

Abi Karsa mencatat pengalamannya dalam sebuah kertas notes Hotel Indonesia Sheraton, yang kemudian dikutip Tempo, 25 November 1978. Dia dan istrinya merupakan dua penumpang yang selamat dalam kecelakaan pesawat, yang mengangkut pulang jemaah haji Indonesia ke Tanah Air.

Baca Juga : Kisah Kecelakaan Pesawat Jemaah Haji Indonesia yang Menabrak Tebing Perawan Tujuh di Srilanka

Kecelakaan yang terjadi pada 15 November 1978 ini menghentakkan orang-orang di Indonesia. Rasanya belum hilang kepedihan akibat kecelakaan pesawat, yang juga mengangkut jemaah haji, tahun 1974 di negara yang sama, Srilanka.

Jemaah haji asal Kalimantan Selatan, yang mengalami peristiwa nahas tersebut, terbang dari Jedah ke Indonesia menggunakan pesawat DC-8 “Loftleidir Icelandic” milik maskapai penerbangan Islandia, yang dicarter Garuda. Pesawat akan singgah di Kolombo untuk mengisi bahan bakar dan mengganti kru pesawat.

Jelang tengah malam, muncul pengumuman bahwa pesawat hampir sampai di Kolombo. Beberapa saat kemudian pesawat bergoncang, jatuh di perkebunan kelapa, dan terbakar di desa Kimbulapitaya, hanya sekitar 3,7 km sebelah timur bandara Katunayake. Kecelakaan ini menewaskan 174 jemaah haji dan delapan kru pesawat, sementara korban selamat berjumlah 75 penumpang dan lima kru.

Para korban selamat kemudian dibawa ke rumah sakit di Kolombo dan rumah sakit Angkatan Udara di Nikombo. Masyarakat Srilanka yang berada di sekitar lokasi membantu mengangkut korban.

Berita pertama mengenai kecelakaan pesawat ini datang dari radio Australia dan BBC London yang memiliki siaran berbahasa Indonesia. Abi Karsa termasuk korban selamat yang diwawancarai kedua radio tersebut.

Setelah mendapat izin keluar dari rumah sakit, 33 korban selamat dipulangkan ke Tanah Air dengan pesawat Garuda. Sisanya memilih tetap tinggal dulu, karena berharap keluarga atau kerabat masih hidup atau ada pula yang masih trauma.

Sementara jenazah korban kemudian diterbangkan ke Banjarmasin dengan dua Hercules TNI AU, yang tiba di bandar udara Syamsudin Noor, Banjarmasin, pada 18 November 1978. Keluarga korban menyambut dengan duka mendalam. 136 jenasah yang tak dikenali dimakamkan di empat lubang di sekitar Makam Pahlawan “Bumi Kencana” Banjarbaru.

Pada Juni 1979, terbit laporan Komisi Penyelidik yang ditunjuk Presiden Srilanka JR Jayewardene –dari pihak Indonesia, R. Soeprapto dan Soewandi terlibat dalam penyelidikan. Penyebab kecelakaan antara lain awak pesawat, pilot, dan kopilot gagal menganalisis ketinggian, pesawat sudah terlalu rendah, sementara landasan pacu belum terlihat.

 

Sumber : Historia.id

Sharing is caring