New here? Register. ×
×

Bentara Linge dan Nasib Aksara Gayo

no comments
07Nov

“Baru dikatakan Paripurna sebuah suku apabila memiliki salah satunya Aksara sendiri”

RUBERNEWS.COM | Namanya Bentara Linge. Bagi masyarakat dataran tinggi Gayo, siapa yang tidak mengenal sosok kakek berusia 56 tahun ini. Pria kelahiran Buntul Linge atau persis disisi Telege Linge, 22 April 1962 ini sering mengisi kegiatan-kegiatan yang bertemakan adat dan budaya baik di tingkat kampung hingga level kabupaten.

Ketika masih kecil Bentara biasa disapa masyarakat Linge, Kabupaten Aceh Tengah dengan panggilan Item Angut.

Bentara Linge merupakan salah seorang pencetus Rasi Gayo (Aksara Gayo) yaitu tulisan purbakala warisan nenek moyang suku Gayo yang mendiami wilayah tengah di propinsi Aceh. Bentara Linge menginginkan Aksara Gayo mendapat pengakuan dunia sebagai identitas peradaban Suku Gayo.

Perjuangan Bentara dan kawan-kawan ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Berbagai upaya sosialisasi agar Aksara Gayo yang ia cetuskan memungkinkan untuk diteliti lebih dalam. Ia pernah menggelar seminar Aksara Gayo yang bekerjasama dengan Dinas Perpustakan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Aceh Tengah. Namun, Bentara Cs kembali harus menunggu proses penelitian lebih lanjut tentang Aksara Gayo melalui penelitian Arkeology dan Filology.

Untuk melakukan penelitian tentang Rasi Gayo tentu saja membutuhkan biaya yang sangat besar. Jika biaya itu dikeluarkan dari dana pribadi, sudah pasti Bentara Cs tak sanggup. “Demi Aksara Gayo ini saya rela menjual aset yang saya punya. Namun jikapun saya jual semua aset juga tidak akan cukup. Memang harus melalui anggaran pemerintah daerah” tutur Bentara saat bebincang dengan rubernews.com, Rabu (7/11/2018).

Bagi Bentara Linge, Aksara Gayo itu merupakan salah satu kekayaan daerah yang dimiliki 4 kabupaten yang didiami oleh suku keturunan Gayo yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Sama halnya seperti suku-suku di daerah lain di Indonesia yang memiliki aksara tersendiri. Aksara yang ia cetuskan itu, sebut Bentara, tidak ada kesamaan atau berbeda dengan daerah lain di Indonesia bahkan dunia.

Dalam perjalanannya memperkenalkan temuan ini, Bentara juga sudah mensosialisasikan tulisan Aksara Gayo itu kepada Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)  Gajah Putih Takengon, kampus UGP Takengon, Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon dan Kampus Alwasliyah Takengon.

“Untuk di Aceh Tengah sudah ada Generasi yang bisa melanjutkan temuan saya ini” imbuhya.

Selain itu, baru-baru ini suami dari Warni Putri Puja Kesuma kelahiran Sumatera Utara telah pula memperjuangkan keberadaan Aksara Gayo melalui event Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-VII tahun 2018 yang berlangsung di Banda Aceh.

Aksara itu disosialisasikan kepada pengunjung di Anjungan Kabupaten Aceh Tengah di komplek Taman Ratu Safiatuddin. Bentara pun mengaku senang, karena banyak diantara pengunjung yang datang meminta dirinya untuk menuliskan nama para pengunjung dengan Aksara Gayo pada media gantungan kunci yang telah disediakan.

“Saya ingatkan bahwa baru dikatakan suku yang paripurna apabila ada wilayah, ada manusianya ada kepercayaanya, ada adat dan budayanya ada bahasanya dan ada aksaranya” ujar Bentara yang mengaku mengutip pernyataan itu almarhum Dr. Mahmud Ibrahim pada kegiatan Focus Group Discusion (FGD) di Hotel Penemas, Takengon, tahun lalu.

“Ini bukan kepentingan pribadi, melainkan kepentingan Suku Gayo selaku Suku tertua di Aceh bahkan Nusantara. Penting kiranya menjadi perhatian serius sebelum diambil alih oleh daerah lain” papar Bentara, sembari mengaku saat ini ia tidak lagi ambil pusing tentang temuanya itu, bahkan ia merasa pasrah.

Pasrah dalam hal ini bukan menyerah, melainkan temuanya itu dikembalikan kepada masyarakat Gayo apakah dilanjutkan atau hanya cukup sampai disini. Bapak 3 orang anak ini menyerahkan sepenuhnya penelitian tentang Aksara Gayo kepada 4 pemerintahan di dataran tinggi Aceh tersebut.

Ia meminta kebijakan Pemerintah di Gayo bukan hanya Aceh Tengah sebagai Kabupaten induk, melainkan Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara untuk menghadirkan tim peneliti baik dalam maupun luar daerah.

“Jika menurut janji yang pernah disampaikan dari delegasi masing-masing kabupaten dalam seminar Rasi Gayo di Pendari tahun 2017 silam, akan menindak lanjuti temuan ini. Namun hingga saat ini masih terkatung-katung,” keluh Bentara Linge.

Bahkan Bentara Linge juga menuturkan, ia telah membaca surat terbuka dari salah sorang tokoh Gayo yang kini menetap di Benua Eropa, Yusra Habib Abdul Gani yang juga Director Institute for Ethic Civilization Research, Denmark.

Berikut isinya dilansir dari media Lintasgayo.co

Surat Terbuka

Yang kami hormati Panitia penyelenggara Seminar Aksara Gayo (24 Oktober 2017)
Gedung Inen Mayak Tri, Takengen, Aceh Tengah.

Assalamualaikum,
Setelah selesai Seminar ini, kami mengusulkan supaya DPRK Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Tenggara; segera membahas dan mengeluarkan qanun tentang peraturan yang mengatur bahwa seluruh nama kantor pemerintah, Swasta, nama jalan, pertokoan, dll di tempat umum, khususnya di 4 Kabupaten, selain ditulis dalam bahasa Melayu/Indonesia juga menulis dengan aksara gayo di bagian bawah.

Terima kasih

Yusra Habib Abdul Gani
(Director Institute for Ethic Civilization Research, Denmark.)
23 October 2017.

Menanggapi surat itu Bentara Linge mengaku hingga saat ini kelanjutan dari surat tersebut belum terealisasi. Bahkan Pemerintah di Gayo masih diam-diam saja tanpa ada tindak lanjut sama sekali.

“Ini adalah identitas yang sangat penting untuk ddikembangkan. Jangan ragu-ragu, dimungkinkan dapat disahkan menjadi Aksara milik orang Gayo” tutup Bentara Linge.

Hingga saat ini dipastikan puluhan masyarakat di Gayo telah mampu menulis, mengajarkan dan membaca Aksara Gayo secara jelas dan mudah dipahami. Diantara nama-nama yang diingat oleh Bentara yaitu, sahabat dekatnya yang ikut memperjuangkan temuan Aksara Gayo, Segertona Gayo. Beberapa lagi diantaranta Zulpan, Amna, Sosa Irza Yuliana, Sari Murni, Suwito, Pika Nemahara dan ada beberapa nama lagi.

Sharing is caring