New here? Register. ×
×

Anggota DPRA Minta Polisi Tempuh Jalur Non Yudisial Terkait Perkara Ortu Santri Laporkan Guru Pesantren

no comments
04Nov

RUBERNEWS.COM, LHOKSEUMAWE | Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Dedi Syafrizal mendorong pihak kepolisian agar menempuh jalur non yudisial terkait laporan orang tua santri ke Polres Lhokseumawe terhadap dugaan tindak kekerasan oleh oknum guru di Pesantren Misbahul Ulum Paloh, Kec. Muara Satu, Kota Lhokseumawe.

Dedi menyarankan pihak kepolisaan agar membuka ruang mediasi bagi kedua pihak untuk mewujudkan perdamaian.

“Kita menyesalkan tindakan orang tua seorang santri mempolisikan seorang oknum guru di Pesantren Misbahul Ulum Paloh. Kita minta polisi dapat memfasilitasi  pertemuan” tutur Dedi dalam siaran pers yang diterima redaksi rubernews.com, Sabtu malam (3/11/2018).

Dedi Safrizal yang merupakan Alumni Pesantren Misbahul Ulum Paloh ini menilai, penyelesaian kasus diluar sistem peradilan resmi merupakan pilihan terbaik. Mekanisme non yudisial juga dikenal dalam sistem peradilan dan diatur oleh konstitusi.

Dedi setuju bahwa ulah oknum guru yang mengarah kepada tindak kekerasan tidak dibenarkan. Namun dia menyebut, hukuman yang oleh perspektif pihak keluarga cenderung disebut sebagai tindak kekerasan terlebih masuk dalam kategori ringan, selayaknya dapat diselesaikan secara internal.

Apalagi, kata Dedi, tindakan oknum guru tersebut dilakukan masih di lingkungan pesantren dan dalam serangkaian kegiatan pembinaan serta pendidikan bagi para santri.

“Saya berharap dan menyarankan kekerasan-kekerasan ringan dapat diselesaikan secara damai dilingkungan pesantren oleh pimpinan, wali murid dan difasilitasi oleh pihak kepolisian karena laporannya sudah masuk ke kepolisian” kata Ketua Partai Nanggroe Aceh (PNA) Kota Lhokseumawe ini.

Dalam pendapatnya, Dedi mengemukakan dua alasan yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi aparat penegak hukum untuk menyelesaikan kasus ini diluar sistem pengadilan.

“Pertama, peristiwa ini terjadi dalam lingkungan pesantren dan masih dalam kegiatan pembinaan pendidikan. Kedua, ini tindak pidana ringan yang memungkinkan secara hukum diselesaikan melalui mekanisme diluar pengadilan” tutur Dedi Safrizal.

Untuk itu, anggota DPRA yang kembali maju pada Pileg 2019 mendatang berharap kepada pimpinan Polres Lhokseumawe agar menyelesaikan kasus ini dengan mekanisme non yudisial.

“Semoga dapat difasilitasi oleh Polres Lhokseumawe menuju terwujudnya perdamaian bagi kedua pihak” harapnya.

Sebelumnya, Hasbi, orang tua seorang santri mempolisikan oknum guru di Pesantren Misbahul Ulum Paloh berinisial Ib.

Ib dilaporkan dengan tuduhan tindak kekerasan yang menyebabkan seorang santri mengalami beberapa titik lebam di bagian tangan kiri dan kanan.

Hasbi melaporkan Ib ke polisi setelah anaknya mendapat perlakuan buruk sebanyak tiga kali pada Oktober 2018.

Terakhir insiden dugaan kekerasan terjadi pada Senin (29/10/2018) sekitar pukul 10.00 WIB. Beberapa jam kemudian, Hasbi pun membuat laporan ke Polres Lhokseumawe, dengan nomor laporan LP/494/X/2018/ACEH/RES LSMW.

“Keterangan anak saya, kejadian terakhir ini berawal dari pulpen dia jatuh. Saat diambilnya, ada bunyi meja tergeser, sehingga oknum guru tersebut langsung melakukan tindak kekerasan pada anak saya,” tutur Hasbi seperti dilansir serambinews.com.

Dituturkan, kejadian pertama, dilakukan Ib pada 14 Oktober 2018, ada satu bekas lebam di tangan anaknya. Kemudian pada 18 Oktober 2018 kembali anaknya mengalami lebam di tangan sebanyak tiga titik.

Sedangkan kejadian ketiga, pada 29 Oktober, anaknya mengalami lebam di delapan titik di tanana kiri dan kanan.

Karena kejadian kembali terulang, maka dia membuat laporan ke Polres Lhokseumawe.

“Sekarang ini anak saya tidak lagi berani ke pasantren, trauma untuk kembali” pungkasnya.

Sharing is caring