New here? Register. ×
×

Bupati Aceh Tengah : Adat Gayo Butuh Revitalisasi

no comments
30Okt

RUBERNEWS.COM, TAKENGON | Bupati Aceh Tengah Drs. Shabela Abubakar menyebut adat istiadat suku Gayo yang dipraktekan masyarakat dataran tinggi Aceh belakangan ini mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Shabela menilai adat istiadat orang Gayo perlu direvitalisasi atau dibangkitkan kembali.

“Secara bersama-sama kita harus berupaya untuk mengembalikan dan melestarikan adat istiadat yang saat ini mulai terasa luntur di tengah-tengah kehidupan masyarakat khususnya dalam melestarikan bahasa Gayo yang bijak” kata Bupati Shabela seusai meresmikan kampung adat di Takengon, Selasa (30/10/2018).

Menurut bupati, pada masa lalu, orangtua kita adab dalam bertutur dan tingkah laku sangat dijaga. Ia memberi contoh yaitu disaat sesorang menyampaikan sesuatu yang menggunakan bahasa istilah melalui pribahasa atau dalam bahasa Gayo dikenal peri mestike atau melalui bahasa melengkan.

Namun saat ini, ungkap Shabela, kebiasaan itu sudah mulai luntur dan sudah sangat jarang digunakan masyarakat dalam berinteraksi sosial.

“Ini yang harus kita kembalikan. Baik dalam rangkaian pesta pernikahan seperti Mango, Munerime Beru, atau kegiatan-kegiatan lainya. Jika ini tidak dibiasakan, tidak tertutup kemungkinan budaya-budaya tersebut akan punah dan akan hilang pada generasi berikutnya. Apalagi saat ini anak-anak kebanyakan tidak lagi menggunakan bahasa Gayo dalam kehidupan sehari-hari. Suatu saat bahasa Gayo akan hilang yang tinggal hanya sukunya” kata Shabela.

Ia merasa saat ini tidak lagi semua masyarakat Gayo paham tentang peri mestike dan mampu bertutur Melengkan. Jikapun ada yang bisa, hanya orang-orang tua yang masih hidup saat ini.

“Untuk itu penting mempertahankan budaya dan adat istiadat, dikarenakan hal tersebut merupakan salah satu kekayaan daerah” ujarnya.

Sebelumnya, Kampung Toweren Toa Kecamatan Lut Tawar dan Kampung Pedekok Kecamatan Pegasing telah ditetapkan sebagai kampung percontohan adat. Kedua kampung tersebut akan menjadi contoh untuk kampung-kampung lainnya di ranah Gayo dalam pelaksanaan adat.

“Adat bukan hanya dilaksanakan pada acara pesta pernikahan seperti (Munyerah Rempele), adat itu sangat luas, jika hilang adat maka hilang akal. Untuk itu mari dipertahankan dan dilestarikan sehingga tidak hilang” ajak Shabela.

Selain Kampung Toweren Toa dan Kampung Pedekok yang telah ditetapkan sebagai Kampung percontohan adat, kedepan Shabela berharap muncul kampung percontohan dalam bertutur bahasa yang bijak sesuai dengan adat istiadat Gayo.

Beberapa bulan yang lalu penerapan adat sudah merambah ke sekolah-sekolah dan pesantren di Aceh Tengah dengan sebutan : Munyerah ni murid ku guru atau dapat diartikan menyerahkan murid kepada guru untuk dibimbing.

“Adat penyerahan murid ku guru di beberapa sekolah di Aceh Tengah sebagai lambang. Ini sedikit dijewer guru orangtua protes. Dengan adanya penyerahan tersebut maka ada sejenis peraturan-peraturan yang tidak boleh diganggu gugat” ungkap Shabela.

Majelis Adat Gayo dalam hal ini dinilai perlu secara berkelanjutan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang peran adat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan peraturan Gubernur Aceh Nomor 81 Tahun 2015 tentang pelestarian adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat Aceh.

“Kedepan kami akan terus berupaya untuk menghidupkan kembali adat istiadat Gayo diberbagai aspek kehidupan masyarakat. Pemerintah Daerah akan terus mendorong dan memberi dukungan terhadap program revitalisasi adat dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Dikarenakan adat sebagai pagar Agama dan pagar Pemerintahan” tutup Shabela Abubakar.

Sharing is caring