New here? Register. ×
×

GAMIFest Dituding Tak Layak Disebut Event Internaional

no comments
Written by Karmiadi Arinos | Published in DAERAH, KEBUDAYAAN
19Sep

Rubernews.com | Pelaksanaan event Gayo Alas Mountion International Festival (GAMIFest) dinilai tak layak disebut sebagai kegiatan yang berstandar International. Pasalnya, konsep dan pelaksanaan kegiatan tidak sesuai dari rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

“bisa dilihat dari berbagai sisi, ada sisi yang mengatakan ini pintu masuk untuk pembangunan kawasan Tengah tenggara Aceh, kalau dilihat dari konsep Acara Gamifestnya jauhlah, Level acara internasional, tapi interlokal saja masih susah dihubungkan,” ungkap Waladan Yoga kepada ribernews.com, Rabu (19/09/2018) di Takengon.

Ia menambahkan, disisi lain pelaksanaan kegiatan perdana itu dinilai setengah hati dilaksanakan.

“Pelaksanaan GAMIFest dilaksanakan selain setengah hati, acara hancur hancuran, konsep panggung bertolak belakang dengan stand pameran, level acara Internasional tapi tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, kondisi lapangan berlumpur, harusnya jika level acaranya internasional hal-hal seperti ini dapat langsung diatasi dengan berbagai cara”, terangnya.

Sisi lainnya waladan menilai, banyak pedagang yang menjajakan dagangannya untuk mengais rejeki pada kegiatan GAMIFest itu tak jauh dari nuansa pasar malam.

“Nuansanya memang tak jauh jauh dari pasar malam, sisi lain internasional yang bisa dijual mungkin pasar malamnya yang tak ada di event internasional lainnya, sisi lainnya, Lapangan Bola Kaki yang baru dikerjakan hancur berantakan, kabarnya Pemda Aceh Tengah sudah usulkan ke Pihak Provinsi agar pelaksanaan GAMIFest ini tidak dipusatkan di lapangan Musara Alun, ada tempat alternatif yang bisa digunakan, Pemda Aceh Tengah sudah sarankan agar tempatnya dipindahkan saja ke sisi danau Lut Tawar, pasti jauh lebih cantik, tapi, sepertinya ada yang ngotot pelaksanaannya harus dilaksanakan dilapangan Musara Alun, mungkin acara ini adalah instruksi Presiden, jadi kengototan yang akhirnya dapat dibenarkan,” sebut Waladan.

Sisi Lain, Gayo (Aceh Tengah) sebagai tuan rumah malu bukan main, acara yang dituding level Internasional namun banyak yang mengatakan kegiatan tersebut hanya level Kabupaten saja.

“Jika begini model acaranya maka ngapain harus berlebel internasional? Tak nampak bagian mananya yang menyerupai even internasional,” tanya Waladan

Sisi lainnya, jika disebut even internasional? sisi Internasional mana yang hadir, contoh sederhananya jika pada acara acara internasional ada undangan atau pengunjung yang memang berasal dari negara lain, ada meeting khusus dengan pelaku Internasional. “Mungkin saja itu ada tapi tidak kelihatan,” sebutnya

Pelaksanaan GAMIFEST menurut sumber, Anggaran yang ada berasal dari APBA tahun 2018, sangat disayangkan jika sumber Anggarannya sangat jelas tapi pelaksanaannya masih berantakan.

Sisi lain, Jika tujuan utamanya adalah untuk percepatan pembangunan kawasan Gayo – Alas, waladan mengaku, tidak harus dipaksakan acaranya yang konsepnya lari dari sebelumnya.

“Sama sekali tidak menarik bagi orang orang internasional, ngak usah orang internasional orang lokal saja kadang susah untuk hadir, mungkin ada sebagian kegiatan yang bermanfaat ada juga kegiatan yang tidak bermanfaat,” ujarnya

Ia berharap, jika Event GAMIFest selanjutnya masih dilaksanakan pelaksanaanya tidak lari dari judul dan thema yang telah ditetapkan.

“Selanjutnya acaranya jangan seperti inilah, kalau konsepnya internasional hadirkan keInternasionalannya, kalau memang ngak sanggup seperti itu, hadirkan konsep acara yang ke Lokalan saja, pasti jauh lebih keren! Cukup Aceh Tengah yang “sial” jadi tuan rumah GAMIFest,” tutupnya.

Sharing is caring