New here? Register. ×
×

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz dan Blokir Ekspor Minyak Negara Teluk

no comments
Written by Redaksi 1 | Published in INTERNASIONAL
  • Kapal perang Iran memberikan peringatan kepada kapal perang AS untuk meninggalkan Selat Hormuz | (Al Alam)
22Jul
= 239

Rubernews.com | Ketegangan antara negara Republik Islama Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin parah setelah Donald Trump secara sepihak menarik AS dari perjanjian damai nuklir Iran yang dicapai dengan negara-negara besar Eropa pada tahun 2015. Bahkan Amerika akan kembali memberlakukan sanksi bagi Iran serta negara lain yang mengimpor minyak Iran.

Menaggapi ancaman Amerika itu, Iran tidak diam diri dan bertekuk lutut terhadap Trump. Negara Persia yang dikenal dengan Islam Syiah-nya, akan merespon secara keras setiap ancaman Amerika, termasuk memblokir ekspor minyak-minya negara teluk dengan menutup Selata Hormuz.

Pemimpin spiritual tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, tidak ada negara di kawasan itu yang akan mengekspor minyak jika ekspor minyak Teheran dihentikan. Ancaman yang sama sebelumnya disuarakan oleh Presiden Iran Hassan Rouhani.

Berbicara kepada duta besar Iran dan diplomat senior, Khamenei mendukung ancaman Rouhani untuk menutup Selat Hormuz sehingga memblokir semua pengiriman minyak dari Teluk Persia ke berbagai negara di dunia.

“Ini adalah pernyataan penting yang mencerminkan pendekatan Republik Islam,” kata pemimpin spiritual tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Ayatollah, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (22/7/2018).

Penyataan Khamenei yang bernada ancaman itu muncul sebagai respon atas retorika anti-Iran yang dimainkan Amerika Serikat (AS).

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump terus melontarkan ancaman kepada negara-negara sekutunya untuk menghentikan bisnis ekspor minyak mentah Iran. Amerika mengancam akan memberlakukan sanksi kepada sekutunya andai gagal mengurangi impor minyak Iran ke “nol” pada awal November mendatang.

Sejak revolusi Iran 1978, Iran dan Ameriaka tidak lagi memiliki hubungan diplomati. Sejak saat itu, Iran dan Amerika saling jual beli ancaman, puncaknya saat presiden negara para mullah itu dijabat oleh Mahmud Ahmadinajad. Setelah dua periode kepemimpinan Ahmadinajad, hubungan Iran dan Amerika serta negara-negara Eropa mulai mencair hingga tercapainya kesepakan nuklir Iran 2015.

Namun saat Presiden AS dijabat Donald Trump, Washington telah membongkar kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan menarik diri secara sepihak dari perjanjian tersebut. Negara-negara besar Eropa lain yang merupakan sekutu Amerika tetap bertahan dengan perjanjian nuklir Iran. Amerika pun mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada sekutunya itu bila tetap berhubungan bisnis minyak dengan Iran. Teheran pun tidak tinggal diam, negara Persia itu bersumpah akan melawan setiap kebijakan Amerika yang mengancamnya.

Sharing is caring

[avatar size="150" /]