New here? Register. ×
×

Peneliti Temukan Lima Titik Logam Berat di Gampong Pande Banda Aceh

no comments
Written by Redaksi 1 | Published in DAERAH, TEKNOLOGI
10Jun

Banner Iklan Ramadhan 1439 H Andi Millian Darmili


Rubernews.com | Peneliti Georadar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Teuku Abdullah Sanny M.Sc menyampaikan presentasi hasil temuan yang dilakukannya di Area IPAL dan TPA Sampah Gampong Pande, Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh. Presentasi ini berlangsung di Meuligo Wali Nanggroe, Lampeuneurut, Aceh Besar, Minggu (10/06/2018) sore.

Pemegang Hak Paten Georadar Internasional ini melakukan penelitian selama sebulan lebih yang dimulainya pada Maret 2018 lalu. Observasi itu dilakukan ke lokasi yang diduga tempat kerajaan Aceh Darussalam, Gampong Pande dan sekitarnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui isi kandungan yang ada di bawah tanah lokasi tersebut yang kini telah menjadi tempat proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Menggunakan alat Ground Penetrating Radar (GPR), Guru Besar ITB ini melakukan pendeteksian di seputaran Gampong Pande dan Jawa dengan jangkauan luas wilayah penelitian mencapai dua kilometer.

Berdasarkan hasil penelitiannya, dia sepakat dengan para ahli sejarah bahwa Gampong Pande dan sekitarnya adalah bekas Kerajaan Islam Aceh Darussalam. Dia mengatakan bahwa Gampong Pande adalah lokasi situs. Secara ilmiah juga bisa dibuktikan bila Gampong Pande dulunya adalah lokasi Kerajaan Islam Aceh Darussalam yang terkenal dengan kemakmuran dan kesejateraannya.

Prof Abdullah Sanny memperkuat asumsinya itu dengan temuan hasil penelitian yang dilakukanya. Dari hasil penelitian, dia menemukan adanya logam berat di dua stratum terbawah daerah Gampong Pande, namun posisinya sementara masih dirahasiakan karena berbagai alasan dan pertimbangan. Namun demikian, dia akan berupaya membuktikan hasil temuannya itu dengan melakukan penggalian apabila sudah mendapat persetujuan dan perjanjian dari semua stakeholders.

“Terbukti bahwa terdapat lokasi-lokasi yang mencerminkan adanya logam berat di dua stratum terbawah daerah Gampong Pande (posisinya sementara dirahasiakan), yang akan kita buktikan kemudian berupa penggalian apabila sudah ada persetujuan dan perjanjian dari semua stakeholders,” demikian ungkap Abdullah Sanny di akhir kesimpullannya.

Bahkan berdasarkan penelitiannya, lokasi temuan logam berat di Gampong Pande bukah hanya terdeteksi di satu lokasi, melainkan di lima lokasi berbeda. “Logam berat ini terdeteksi bukan cuma di satu lokasi, tapi ada di lima lokasi yang berbeda,” kata Abdullah Sanny menjawab pertanyaan media ini.

Dia juga menegaskan bahwa logam berat itu adalah timbunan dari bekas Kerajaan Aceh, bukan logam yang terbentuk karena faktor alam. “Ini logam dari reruntuhan karena tidak berakar, kalau logam yang terbentuk secara alami oleh alam maka logamnya itu berakar, tapi ini tidak,” jelasnya sambil menunjukkan gambar perbedaannya.

Selain itu, Prof Abdullah Sunny juga mengungkapkan dua situs yang terdapat di bawah tanah Gampong Pande yang terbagi atas 3 stratum, yaitu kedalaman 3,5 meter, kedalaman 12-15 meter, dan kedalaman 28-30 meter.

Berdasarkan stratum tersebut dapat diinterpretasi bahwa daerah Gampong Pande telah terjadi tiga kali penguburan berupa subsidence yang kemungkinan terjadi akibat gempa tektonik.

[MK]

Sharing is caring