New here? Register. ×
×

Mencari Wakil Simeulue Dari Kalangan Muda Ke Parlemen Aceh

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in OPINI, POLITIK
  • GEDUNG-DPRA
10Mar
= 12

RUBERNEWS.COM | Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019 memang masih menyisahkan waktu lebih kurang satu tahun lagi, namun hiruk pikuk panasnya persaingan menuju kursi legislatif baik tingkat kabupaten, provinsi maupun tingkat pusat mulai terasa dalam beberapa bulan terakhir.

Di antara kalangan masyarakat yang menjadi bahan perbincangan menarik dalam menentukan siapa wakil rakyat yang harus dipercaya untuk mewakili suara masyarakat dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang.

Hiruk pikuk perbincangan tahun politik 2019 tidak hanya terasa di daratan Aceh namun juga sudah merebak ke Kabupaten Simeulue yang dikenal dengan pulau penghasil cengkeh dan ditumbuhi jutaan pohon kelapa itu.

Belajar dari pengalaman Pileg 2014 yang lalu, ada sebuah kemunduran yang dialami oleh Kabupten Simeulue, Simeulue pada saat itu dipastikan kehilangan putra terbaik daerah nya untuk duduk di Gedung DPR Aceh. Pasalnya dari hasil Pemilu 2014 karena pada saat itu tidak satupun yang mampu memperoleh suara yang cukup untuk mewakili pulau yang masuk dalam kategori terluar dan terpencil tersebut.

Untuk Pileg 2019 mendatang, Simeulue akan kembali bergabung dengan Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya dan Nagan Raya di Daerah Pemilihan (Dapil) 10, tentu ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan menjadi pembelajaran bagi masyarakat Simeulue untuk tidak mengulangi kesalahan pada tahun 2014 silam dimana tidak adanya putra asli daerah yang mampu berbicara banyak pada tingkat provinsi.

Pada Pileg 2014 silam perolehan suara di Dapil 10 (Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, dan Simeulue), dari 9 kursi yang diperebutkan hampir dipastikan tidak ada satu pun yang akan diduduki oleh putra kelahiran wilayah kepulauan ini.

Berkaca dari kegagalan Simeulue mengirimkan putra terbaik ke Gedung Parlemen Aceh pada 2014 silam seharusnya menjadi daya semnagat untuk menyatukan suara dengan tekad yang bulat serta bersepakat mengirimkan satu atau dua putra daerah nya yang mampu diberikan kepercayaan berbicara untuk kepentingan Simeulue pada priode 2019-2024. Masyarakat Simeulue bisa saja mengambil pengalaman pada Pileg 2009 silam dimana  Simeulue sukses mengirimkan dua wakilnya ke Gedung Parlemen Aceh.

Dalam urusan mengirimkan Wakilnya ke DPR Aceh tentu masyarakat Simeulue sudah memiliki kecerdasan dalam berpolitik didorong lagi dengan peralatan teknologi yang hampir menyuluh dimiliki masyarakat Simeulue. Tentu ini menjadi nilai lebih dimana masyarakat Simeulue semakin sadar akan pentingnya memiliki keterwakilan daerahnya yang mampu berbicara baik tingkat provinsi maupun tingkat nasional.

Masyarakat juga seharusnya lebih peka dan peduli serta dilandasi rasa kesadaran akan pentingnya memiliki wakilnya di Parlemen guna menerima berbagai manfaat dalam jangka panjang. Untuk itu, masyarakat perlu sejak saat ini mulai membangun sosialiasi kesadaran dengan tujuan mendorong demokrasi bernegara yang kuat dan baik secara substansial, prosedural dan meningkatan keterwakilan dari kalangan muda dalam dunia politik di Parlementer.

Keterwakilan dari kalangan muda yang menjadi putra daerah harus diberikan kesempatan untuk menjadi wakil rakyat di Gedung DPR Aceh maupun DPR RI, hal ini berbicara mengenai regenerasi pemimpin penerus di Simeulue dalam jangka puluhan tahun yang akan datang. Terlebih lagi pada Pileg 2019 akan ada pemilih pemula atau juga disebut sebagai generasi milenial yang menjadi pemilih dengan jumlah yang tidak sedikit.

Dengan banyaknya jumlah pemilih pemula atau yang disebut dengan generasi milenial “jaman now” tentu juga akan berpihak kepada calon wakilnya yang masih muda juga untuk kemudian dipercaya menjadi wakil rakyat sebab pemilih pemula memiliki alasan tersendiri dan lebih aktif dalam mengetahui isu-isu terbaru yang ada di media sosial dan sebagainya.

Pada intinya masyarakat mesti sadar untuk memberi peluang munculnya para politisi muda di Parlemen Aceh maupun pada tingkat nasional membutuhkan orang muda di pentas politik guna merealisasikan misi jangka panjang, yang tak dimiliki para caleg tua. Kalau yang tua paling sebentar lagi juga selesai dan tidak punya misi di parlemen dalam jangka panjang.

Caleg muda lebih memiliki visi dan misi bahkan mimpi bagi perkembangan jangka panjang bagi daerahnya maupun Indonesia. Sehingga, ia menilai saat ini merupakan waktunya kaum muda untuk melakukan perubahan bagi daerahnya.

Usia yang matang dalam dunia perpolitikan bisa dikategorikan ketika mulai memasuki usia berkisar dari  35 hingga 39 tahun, dikarenakan usia ini mampu berpikir secara enerjik dan memiliki semangat optimisme yang tinggi, berbeda dengan ketika mulai memasuki masa pensiun yakni usia 63 tahun ke atas justru lebih cenderung menikmati masa-masa pensiun.

Justru sebaliknya, masyarakat semestinya sadar bila akan memilih cenderung kepada caleg yang tergolong usia tua, terlebih lagi caleg yang telah pensiun dari dunia eksekutif lalu kemudian mencari peruntungan di dunia legislatif dan ini bisa menjadi kesan yang tidak baik di mata masyarakat seolah-olah mencari mata pencaharian yang baru karena tidak lagi memiliki sumber uang karena telah memasuki dunia pensiun.

Sharing is caring

[avatar size="150" /]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *