New here? Register. ×
×

Nasi Bungkus Yang Belum Terlunasi Dari Sisa-Sisa Pesta Demokrasi

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in BERITA PILIHAN, OPINI
14Okt

RUBERNEWS.COM | Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2017 memang sudah berlalu, momentum untuk menperjelas arah perdamaian, kesejahteraan masyarakat, perbaikan ekonomi, pendidikan, infrastruktur dan lain sebagainya. Bukan sebaliknya, sebagai bentuk power sharing pelanggengan kekuasaan tanpa tujuan yang jelas.

Tetapi mungkin belum berlalu begitu saja bagi pengusaha pemilik warung makan yang telah menyediakan “nasi bungkus” bagi kandidat yang bertarung pada pilkada lalu.

Memang pada kenyataannya antara nasi bungkus dan kandidat memiliki hubungan yang menjadikan pemilik usaha nasi bungkus menjadi sahabat untuk memberikan nasi bungkus dalam jumlah yang banyak guna memeriahkan pesta demokrasi.

Kehadiran nasi bungkus mungkin bisa menjadi penyemangat bagi pasukan nasi bungkus untuk hadir melepas rasa lapar dan melihat kandidat jagoannya memberikan segala bentuk janji-janji manis.

Waktu yang terus berputar hingga dilema nasi bungkus masih terasa bagi pemilik warung nasi yang telah menjadi korban nyata dari janji palsu kandidat yang telah mengambil nasi bungkus dalam jumlah yang banyak.

Bagi pemilik usaha warung nasi hanya mengandalkan faktor keuntungan belaka, ibarat nasib yang berada di ujung tanduk. Sebab bila kandidat yang diberikan nasi bungkus telah menang pada pesta demokrasi kemungkinan besar modal yang dikeluarkan akan kembali, setelah calon tersebut duduk sebagai penguasa. Tentu akan mudah untuk mengembalikan dana tersebut, sebab uang yang dimiliki penguasa tersebut mengalir dengan deras seperti air yang telah lepas dari bendungan.

Namun bagaimana dengan pemilik usaha nasi bungkus yang mengantungkan harapannya kepada calon kandidat peserta demokrasi yang kalah, tentu sangat memperihatinkan sekali. Pasalnya ibarat telah terjatuh lalu tertmpa tangga. Pemilik usaha nasi bungkus khawatir akan bagaimana kandidat tersebut melunasi hutang nasi bungkus, bisa saja kandidat tersebut menghilang dari peredaran sehingga hanya sebuah harapan kosong akan sebuah janji untuk melunasi nasi bungkus tersebut.

Kini bila berkaca pada pesta demokrasi yang baru saja usai, dilema yang dirasakan oleh pemilik usaha nasi bungkus hanya menunggu keajabaikan agar modal yang telah dikeluarkan untuk menyediakan nasi bungkus bisa kembali.

Pasukan nasi bungkus, menurut pengertian dari Wikipedia Pasukan nasi bungkus atau panasbung adalah istilah yang ditujukan kepada orang-orang yang dibayar untuk mendukung calon tertentu dalam pemilihan pejabat pemerintahan.

Tugas pasukan nasi bungkus adalah membantah segala hal negatif dan menyampaikan hal positif mengenai calon yang membayarnya, serta menyampaikan hal negatif mengenai calon lawannya.

Penyampaian tersebut biasanya menggunakan pasukan nasi bungkus melakukan aksinya baik melalui dunia nyata maupun dunia maya, mulai dari media sosial, kolom komentar di situs berita, hingga forum internet.

Dalam konteks ajang pesta demokrasi seperti sekarang ini pasukan nasi bungkus terus diberdayakan oleh para tim pemenangan setiap calon kandidat tertentu.

Demi sesuap nasi para pasukan nasi bungkus tersebut rela meluangkan waktunya untuk bersama-sama melakukan komentar ditiap media sosial. Pertanyaannya apakah dengan cara itu efektif untuk masyarakat. Memang dalam faktanya saat ini, dunia komputerisasi dan dunia maya menjadi cara efektif untuk menggalang opini masyarakat. Namun seiring perkembangan jaman tersebut banyak pula yang mengatakan cara tersebut kurang efektif di mata masyarakat.

Sharing is caring