New here? Register. ×
×

Demi Jabatan Oknum PNS Rela Halalkan Segala Cara, Untuk Dapatkan Ijazah Tanpa Kuliah

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in BERITA PILIHAN, OPINI
  • Ijazah Palsu
11Okt
= 29

RUBERNEWS.COM | Pegawai di kalangan pemerintah yang memakai ijazah pal­su yang diperoleh dari perguruan tinggi sungguh telah me­ngo­tori tujuan mulia lembaga pen­didikan ting­gi untuk menghasilkan sumberdaya ma­nusia yang berkualitas melalui se­rang­kai­an proses pendidikan yang meng­uta­makan mutu.

Adanya segelintir orang yang menyalah­guna­kan tujuan mulia ter­sebut untuk meraup keuntungan di tengah-tengah lemahnya pengawasan yang dibentuk pemerintah, merupa­kan sebuah cerminan betapa banyaknya masya­ra­kat kita yang membu­tuhkan ijazah pen­di­dikan tinggi untuk meraih posisi, ke­dudukan dan pekerjaan yang lebih baik de­ngan jalan pintas dan dengan cara cara yang haram. Tidak mungkin ada ija­zah palsu kalau tidak ada yang mem­butuhkan, dan ditenggarai sudah lama berlangsung di negeri ini.

Untuk tidak mengaburkan pengertian, terlebih dahulu harus kita pahami apa yang dimaksud dengan ijazah palsu per­guruan tinggi. Ijazah palsu pada dasarnya ter­diri dari dua jenis, yang pertama adalah ija­zah yang diproduksi perguruan tinggi tidak terdaftar atau tidak punya izin. Kedua adalah ijazah yang diperoleh se­seorang dari perguruan tinggi terdaftar res­mi tanpa melalui proses pendidikan yang semestinya.

Pada jenis pertama, per­guruan tinggi tersebut secara fisik bisa ti­dak ada dan alamatnya berpindah-pin­dah, atau secara fisik ada tetapi tidak mem­punyai izin dari Direktorat Jenderal Pen­didikan Tinggi.

Pada jenis kedua, per­gu­ruan tinggi secara fisik jelas ada, alamat leng­kap dan punya izin resmi, tetapi pro­ses pendidikan tidak berjalan sebagai­mana mestinya, misalnya mahasiswa ti­dak pernah kuliah, atau hanya datang ke­tika ujian, hanya mengambil mata ku­liah dua atau tiga semester, tidak menulis tugas akhir, skripsi atau thesis, tetapi bisa wi­suda, lalu sudah wajarkah manusia seperti ini dipercaya untuk mengelola pemerintah, mari tanyakan kepada diri sendiri.

Bila hal ini terjadi di suatu per­guruan tinggi, maka kita berani me­nya­takan perguruan tinggi tersebut adalah per­guruan tinggi abal-abal yang layak di­tutup pemerintah sesuai UU No. 12 Ta­hun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Tentu  timbul pertanyaan, mengapa ijazah palsu ini marak terjadi di tanah air. Bila kita kaji lebih dalam, ada faktor pen­dorong dan faktor penarik untuk melak­sa­nakan bisnis illegal itu. Faktor pen­dorong berkaitan dengan administrasi birokrasi dalam memperoleh pekerjaan dimana level ijazah yang lebih tinggi akan me­mung­kinkan seseorang mempe­ro­leh posisi dan penghasilan yang lebih ting­gi.

Misalnya untuk pekerjaan Pegawai Negeri Sipil (PNS), level ijazah sangat me­nentukan pangkat golongan awal. Pegawai baru lulusan SMP atau se­derajat mempunyai golongan I/b, lu­lusan SMA atau sederajat II/a, lulusan D1/D2 atau sederajat II/b, lulusan D3 atau sederajat II/c,  lulusan S1 atau se­derajat  III/a,  lulusan S2  III/b, dan pe­gawai baru lulusan S3 atau sederajat mem­punyai golongan III/c.

Faktor pendorong lainnya bagi sese­orang untuk memperoleh ijazah ilegal ini adalah untuk meningkatkan status so­sial dengan embel-embel gelar ber­gengsi. Hal ini terbukti dari sidak Menteri Ris­tek dan Pendidikan Tinggi baru-baru ini di University of Berkeley Jakarta yang telah memberikan gelar Doktor (S-3) dan Doctor of Honoris Causa untuk ka­langan pejabat, pengusaha, anggota de­wan dan lain-lain.  Dalam hal ini, sta­tus sosial yang ingin diraih telah me­nga­lahkan aspek rasional dan nilai-nilai moral pendidikan.

Di sisi lain, faktor penarik bagi orang untuk melaksanakan bisnis ijazah palsu ini adalah tingginya permintaan, lemah­nya pengawasan, dan ketersediaan tekno­logi  untuk memproduksi dan mema­sar­kan­nya.

Sebagai contoh, tingginya permintaan ijazah pal­su ini dapat dibuktikan dari hasil pe­me­rik­saan polisi pada Rektor University of Su­matera yang menyatakan telah menge­luar­kan ijazah illegal sebanyak 1.200 lem­bar untuk tingkatan S-1 dan S-2 de­ngan tarif berkisar antara Rp 15 – 40 juta per ijazah. Dari segi bisnis, peluang ini telah menghasilkan banyak uang yang sangat menggiurkan.

Aspek lain yang menarik orang untuk me­lakukan bisnis ilegal ini adalah kondisi le­­mahnya sistem pengawasan dari ins­tansi terkait. Hal ini terbukti dari pe­me­riksaan polisi bahwa bisnis ilegal ini su­dah berlangsung lama dan telah mem­pro­duksi ribuan ijazah palsu tanpa ada instansi yang tahu.

Faktor penarik lainnya untuk memu­dah­­kan bisnis ijazah ilegal ini adalah adanya bantuan teknologi yang dapat mem­produksi blanko ijazah dengan cepat de­ngan kualitas kertas premium.

Selain itu,  proses penawaran dan “pemasaran” ija­zah palsu ini dilakukan melalui tek­nologi jaringan internet disamping mafia yang telah berkerja secara rapi.

Melihat potensi munculnya bisnis ijazah palsu selalu ada di tengah-tengah ma­syarakat kita karena selalu terkait de­ngan pekerjaan dan status sosial, maka pe­merintah perlu membuat langkah tero­bo­san untuk meminimalkan atau bahkan meng­hilangkan bisnis ilegal ini.

Langkah utama yang harus dilakukan adalah ke­wa­jiban seluruh instansi pemerintah un­tuk memverifikasi ulang seluruh ijazah pe­gawai baru dan pegawai yang sudah lama bekerja. Bagi pegawai yang me­miliki ijazah palsu harus diberikan sanksi yang tegas dan dilaporkan kepada Polri un­tuk diusut tuntas, lalu akankah pihak pemerintah berani menindak tegas.

Langkah berikutnya adalah setiap Koor­dinasi Perguruan Tinggi Swasta (Ko­pertis) di Indonesia sudah saatnya mem­bangun laman verifikasi perguruan tinggi swasta di media online, sehingga setiap anggota masyarakat dapat lang­sung mengetahui status perguruan tinggi swasta apakah terdaftar resmi atau tidak.

De­ngan sosialisasi yang baik dan di­laksanakan secara terus menerus, ma­syarakat tidak akan mudah tertipu dan terhindar dari masalah hukum di ke­mudian hari.

Bila dilihat dari kajian sudut pandang agama, pada dasarnya gaji pekerjaan tidak terlalu terkait dengan ijazah yang kita lampirkan saat melakukan lamaran, tapi pada kemampuan dan kompetensi kita dalam melakukan pekerjaan tersebut dan pada pekerjaan yang dilakukan.

Hukum memiliki ijazah palsu itu dosa besar dan haram hukumnya karena itu termasuk perilaku bohong, penipuan dan pemalsuan yang sangat dicela oleh Allah. Allah berfirman dalam QS Al-Haj :30. Artinya: “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Dalam hadis sahih riwayat Muslim dari Abu Bakrah, Nabi Muhammad SAW, “Tidak aku beritakan padamu dosa besar yang paling besar? Ada tiga: menyekutukan Allah, durhaka pada orang tua, persaksian atau perkataan palsu”. Abu Bakrah berkata: Rasulullah saat itu sedang bersandar, lalu duduk dan terus mengulangi ucapan beliau sampai kami berkata: Semoga Nabi diam (berhenti mengulang-ngulang).

Oleh karena itu, hendaknya anda melakukan taubat nasuha agar apa yang dilakukan dan rejeki yang didapat sekarang dan di masa depan dapat berkah. Salah satu caranya dengan menghentikan kebohongan ini dengan cara harus kuliah dengan benar sesuai dengan jurusan yang tertulis di ijazah palsu tersebut dan mendapatkan ijazah yang asli.

Cari perguruan tinggi swasta program ekstensi untuk kalangan pekerja atau ikuti universitas terbuka. Selain itu, taati perintah syariah, jauhi perkara haram dan perbanyak sedekah sebagai penambah dosa.

Sharing is caring

[avatar size="150" /]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *