New here? Register. ×
×

Yang Mulia Ayahanda Bangsaku, Bapak Moehammad Hatta

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in OPINI
  • Mohd Hatta
15Agu
= 40

RUBERNEWS.COM | Bapak Proklamator yang mulia untuk yang selalu dalam harapan, Ayahanda Bangsaku, yang dicintai Allah, Moehammad Athar (Moehammad HATTA)

Selamat malam, Ayahandaku tercinta. Ayahanda, izinkanlah ananda malam ini untuk memanggilmu dengan sebutan “Ayahanda”, walaupun kita tidak pernah berjumpa secara langsung, bahkan banyak diantara kami  sebelum “cucu-cucu” Ayahanda ini terlahir, Ayahanda sudah diminta pulang oleh Sang Kuasa untuk Menghadap-Nya. Namun, nama Ayahanda selalu harum, sama seperti arti ‘Athar’ (Moehammad Hatta) dalam nama Ayahanda yang begitu indah dan mulia.

Ayahanda, saat ini Bangsa Indonesia telah menginjak kemerdekaan tahun ke-72 dan menjelang ke-73 tahun Indonesia Merdeka, setelah Ayahanda bersama Bung Karno menandatangani Naskah Proklamasi yang disambut haru dan suka cita di setiap sudut desa, dan kota di seluruh tanah air

Jika ananda saat itu berada di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat, Hari Jumat, 17 Agustus 1945, Ananda pasti akan tersenyum takzim, bersorak-sorai, membuncah begitu bahagia, negeri kita tidak akan pernah dijajah lagi, tidak ada lagi kerja paksa, tidak ada lagi kewajiban bayar upeti yang tak jelas, tidak ada pungli dan korupsi yang menyesengsarakan rakyat dan tak ada lagi perlakuan semena-mena para penjajah, karena kita sudah merdeka yang sesungguhnya. Tapi, kala itu Ayahanda kemudian berkata, : “Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita”

Tujuh dekade setelah penjajah angkat kaki dari bumi Indonesia, hampir 90% sumber daya alam kita berupa minyak dan gas alam dikuasai oleh Bangsa Asing, sementara tingkat kemiskinan Indonesia mencapai 12,25% (mungkin juga sudah lebih?) dari jumlah penduduk saat ini. Entahlah.

Ayahanda, apakah memang kita tidak bisa mengurusi sendiri sumber daya alam negeri kita yang amat melimpah ini, ataukah kebijakan oknum penguasa kita yang tidak pro-rakyat dan lebih mementingkan kelompok dan perutnya sendiri?. Ternyata benar kata Ayahanda,  “Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat”, seolah-olah Ayahanda pernah pergi ke masa depan dan mengetahui apa yang akan terjadi berpuluh-puluh tahun mendatang. Kata-kata peringatan dari Ayahanda begitu nyata hari ini. Masya Allah.

Ayahanda Yang Mulia, siaran televisi, berita di media cetak, dan media maya dan Sosmed lainnya akhir-akhir ini membicarakan tentang keadaan Indonesia yang semakin jauh dari cita-cita pendiri bangsa, cita-cita Ayahanda dan tentu juga cita-cita dari kita semua. Terlebih lagi beberapa waktu yang lalu – saat ada berita tentang pertikaian dua lembaga hukum yang saling menunjukkan siapa yang paling kuat di atas lembaga hukum lainnya. Sebagai insan terpelajar, terdidik dan bahkan pendidik lagi, Ananda malu sekali menontonnya. Ayahanda, Ananda berdo’a kepada Allah Swt, jangan sampai bangsa yang pernah menjajah kita menontonnya, mereka akan tertawa terbahak-bahak  terhadap keadaan kita saat ini, jika mereka sempat melihat perilaku yang sungguh aneh dan sangat memalukan.

Belum lagi berita tentang oknum “politisi karbitan” dan partai politik  yang sudah kehilangan arah, visi dan misinya dari hakikat Indonesia Merdeka. Politisi senior “ibu kota” pernah berkata bahwa mereka lebih mengutamakan kadernya berbakti kepada partainya dibanding dengan tanah airnya.

Apakah mereka sudah lupa atau pura-pura lupa akan sumpah kepada rakyatnya dan disaksikan oleh Allah Swt? Entahlah, Ayahanda, apakah karena persaingan hidup yang begitu dahsyat sehingga  telah membuat kita terpecah dan hilang fokus sampai-sampai ego kita ingin selalu terlihat unggul dibanding saudara-saudara kita sendiri? Ananda belum mampu memahami ini semua, wahai Ayahanda yang mulia.

Sekali lagi benar kata Ayahanda waktu itu, “Integritas bangsa Indonesia telah mati sejak tahun 1959, sekarang Indonesia hanya sebatas integritas wilayah, raganya Indonesia, tapi jiwanya tak lagi nusantara”. Astargfirullahal ‘Adhiem.

Semakin lama masa kemerdekaan bangsa ini membuat kita tidak merdeka dan malah menyakiti saudara kita seperjuangan. Semoga Allah Swt melindungi kita semua, Ayahandaku.  Ananda tidak tahu ayah, manakah yang lebih baik, zaman secara de jure belum merdeka, akan tetapi kita begitu kuat dan bersatu, ataukah zaman yang merdeka secara de jure, namun kita bercerai-berai seperti hari ini.

Tapi Tuhan tetaplah Yang Maha Benar dan Maha Mengetahui tentang mengapa Ayahanda terlahir di zaman perjuangan kemerdekaan dan ananda sendiri terlahir di zaman merdeka, tapi Ayahanda ‘hati ini’ sakit dan sungguh sakit sekali. Masih Ada hikmah yang ananda belum pernah tahu. Ayahanda Yang Dicintai Allah Swt, Ananda sendiri sekarang ini telah menjadi  sebagai Ayah dari beberapa putra dan putri anak bangsa ini.

37 tahun setelah kepergian Ayahanda, Indonesia kekurangan, dan bahkan kehilangan  tokoh panutan negarawan yang santun, jujur, amanah, bersahaja, dan sederhana. Hal ini semakin jelas ketika beberapa media dalam dan luar negeri menceritakan tentang korupsi Indonesia saat ini yang beritanya berbanding lurus dengan tunjangan fantastis wakil rakyat yang mengantarkan Indonesia menempati negara dengan penghasilan wakil rakyat terbesar ke-4 di dunia dibanding dengan pendapatan perkapita rakyat yang menggajinya, atau sekedar studi banding yang lebih banyak jalan-jalan ke luar negeri yang nominalnya bisa memperbaiki ratusan gedung sekolah rakyat yang rusak atau akibat bencana alam dan kini gedung sekolah itu tidak layak huni lagi. Di kala itu ananda langsung teringat cerita tentang sepatu Bally, kisah naik haji, sampai tagihan listrik rumah Ayahanda.

Ayahanda, ananda masih ingat cerita ketika Ayahanda menyelipkan brosur sepatu Bally di salah satu buku Ayah. Mengapa dulu tak Ayah gunakan kedudukan Ayah untuk mendapat sepatu Bally yang Ayah inginkan? Mengapa Ayah mesti menabung dan sampai akhir hayat hidup Ayahanda, namun sepatu Bally idaman itu tak pernah terbelikan? Padahal timbangan jasa Ayah teramat besar untuk bangsa dan negara ini. Bukankah mudah bagi Ayah untuk mendapatkan hanya sepasang sepatu Bally yang Ayah idamkan itu? Bahkan saat itu istri Ayahanda juga harus menabung untuk mendapatkan dan ingin membeli sebuah mesin jahit baru yang diidamkan, namun juga tak pernah terbelikan yang baru sampai Allah menjemputnya.

Kala itu Ayah hanya berkata, “Kita sudah cukup begini, kita hanya punya nama baik. Itu saja yang harus kita jaga terus”. Ayah begitu bangga dengan kesederhanaan hidup ayah melebihi wakil rakyat saat ini yang sangat bangga terhadap mobil sport keluaran terbaru miliknya. Padahal mobil kebanggannya itu dibeli dari uang dan hasil keringat bangsanya sendiri yang hidupnya dalam penderitaan.

Ananda salut, tabik dan kagum padamu Ayahanda dalam berpikir, berkata dan bertindak. Ayah sungguh benar, untuk menjaga nama baik itu tidaklah mudah. Faktanya hari ini – banyak sekali cucu-cucu Ayahanda pada akhir hidup dan akhir kekuasaannya berakhir dan tragis serta menyedihkan karena mereka harus menghabiskan masa tuanya di dalam ‘pengadilan dunia’. Na’uzubillahi Min Zhalik.

Ananda masih ingat kisah ini, saat Ayah masih menjabat sebagai Wakil Presiden dan ingin melakukan ibadah haji bersama istri serta dua saudara Ayah pada tahun 1952. Kala itu, Bung Karno sebagai Presiden RI Pertama menawarkan kepada Ayahanda agar perjalanan untuk ibadah haji menggunakan pesawat terbang yang biayanya ditanggung oleh negara. Tapi Ayah menolaknya, Ayahanda ingin pergi haji sebagai rakyat biasa, bukan sebagai Wakil Presiden. Ketika ananda membaca kisah itu jujur Ayah, ananda menangis sesunggukan dan airmata ini tak bisa terbendungkan. Subhanallah hati Ananda berbisik : Inilah sikap dari seorang pemimpin umat  yang dicintai Allah dan kelak akan dimasukkan ke dalam Surga Jannatun Na’im.  Amin, Ya Allah, Ya Ilahi Rabbi.

Ayah membiayai sendiri biaya ibadah haji dari hasil honorarium penerbitan beberapa buah buku karangan Ayahanda sendiri. Lain waktu – saat Ayahanda sudah tidak menjadi Wakil Presiden, Ayahanda mendapat uang pensiun sebesar Rp 3.000, yang terbilang sangat – sangat kecil untuk seorang pemimpin negara yang begitu besar dan tidak tergantikan jasa-jasanya, sampai-sampai Ayahanda kesulitan untuk membayar tagihan listrik di rumah. Padahal mungkin saja Ayah bisa hidup bagaikan seorang bangsawan atau “raja” dan mewah dengan menerima semua jabatan komisaris perusahaan nasional maupun asing.

Tetapi, Ayahanda juga menolaknya, karena jabatan komisaris biasanya jatah bagi pejabat yang pensiun, tanpa perlu kerja setiap bulannya komisaris akan mendapatkan gaji buta. Ayahanda sangat cinta kepada rakyat, tidak ingin mengkhianati rakyat dengan menerima jabatan sebagai komisaris, apa yang akan dikatakan oleh rakyat bila Ayah menerima tawaran itu, hati dan sikap Ayah menolaknya dengan tegas. Sehingga penghasilan Ayah hanya dari royalti buku karangan dan sebagai dosen tamu di beberapa Universitas waktu itu.

Lagi-lagi benar kata Ayah, ”Betul, banyak orang yang bertukar haluan karena penghidupan ini, istimewa dalam tanah jajahan di mana semangat terlalu tertindas, tetapi pemimpin yang suci senantiasa terjauh daripada godaan iblis itu”, begitulah kata ayah yang masih terngiang-ngiang di telinga ananda dan cucu-cucu ayahanda saat ini. Betapa mulia hatimu Ayahanda, Engkaulah pahlawan bangsa yang sesungguhnya saat ini, Nama mu terukir indah dan abadi di sanubariku.

Ananda sangat yakin dan percaya bahwa – sikap Ayah bukan trik pencitraan seperti yang hari ini  sangat digandrungi oleh ‘pemimpin salon’ bangsa kita yang mengaku beradab ini. Lantas, bagaimana karakter integritas, kejujuran, dan kesahajaan selalu lekat pada Ayah, sedangkan hari ini menjadi sesuatu yang langka, bahkan nyaris tak ada pada pemimpin bangsa?

Ananda khawatir, Ayah, jika nanti anak-anakku, cucu-cucumu  dan generasi penerus tongkat estafet bangsa ini, satu-satunya harapan untuk kemerdekaan yang seutuhnya, mengikuti tingkah ‘pemimpin salon’ bangsa ini. Ya Allah, Yang Maha Rahim – lindungilah kami semua dari kemunafikan dan keberpura-puraan dalam mengabdi untuk bangsa dan hambaMu ini. Ampunilah dosa-dosa kami Ya Allah.

Ayah, semoga ananda salah, ketika ananda berpikir bahwa bangsa ini hanya dianugerahi satu atau dua saja orang seperti Ayahanda hingga akhir masa. Ketakutan ananda terhadap kepongahan, kesemena-menaan, keserakahan, dan kezhaliman oknum pemimpin sekarang ini sangat berlebihan. Sungguh Ayah, dari dalam sanubari ada rindu yang tak terperikan kepada sosok negarawan nan bersahaja seperti Ayahanda yang sudah tenang di alam barzah sana.

Ayahanda, maukah Ayah kembali ke dunia ini sekejap saja, hidup untuk yang kedua kalinya, lalu mengubah bangsa ini (sekali lagi)? Sebuah harapan ananda yang tak mungkin terjadi dan sangat mustahil, bahkan terkesan sebuah harapan ‘gila’ dari anak negeri ini. Namun, ananda selalu berdo’a agar kemustahilan itu akan menjadi nyata. Allah Maha Mengetahui atas segalanya. Entah kapan harapan Ananda ini terwujud? Wallahu ‘aklam Bisshawab.

Sungguh bodoh dan Naifnya ananda yang menginginkan, agar Ayah bisa hidup kembali. Ananda bukan berputus asa dari orang-orang di masa ananda hidup ini. Bahkan ananda berharap mesin waktu benar-benar ada, mesin waktu yang memperjalankan Ayah dari masa lalu ke masa hari ini. Untuk datang ke tahun ini, lalu sekadar memarahi tingkah-polah para oknum pejabat yang tak kenal malu untuk menyelewengkan amanah rakyat. Atau untuk mengajari kami tentang kenegarawanan dan kesahajaan, tentang tindakan yang bukan pura-pura, tentang kebaikan yang bukan sekadar citra di depan media, tentang dalamnya perkataan dan lurusnya perbuatan, Ayah, itu sudah lebih dari cukup bagi kami sebagai ‘anak-anakmu’.

Bisakah di sana Ayah berdiplomasi dengan Tuhan untuk hidup kembali? Atau setidaknya menitis kenegarawanan dan kesahajaan Ayahanda pada bayi-bayi yang mungkin akan lahir pada perempuan-perempuan lain sebagai anak bangsa hari ini, agar di masa depan bangsa ini bisa terkembang senyumnya yang indah dan tulus.

Ayah, meski ananda tidak sedarah dan mewarisi sifat-sifat genetik dari Ayahanda, do’a ananda tidak akan pernah putus agar ananda dan bayi-bayi yang lahir dari rahim isteri ananda dan wanita-wanita Indonesia lainnya menjadi Hatta-Hatta Muda, pewaris keteladanan dan segala sikap terpuji milik Ayahanda yang nyaris pudar dan musnah di zaman dan negeri ini. Amin, Ya Rabbal ‘Alamin.

Penulis : TM Jamil

Sharing is caring

[avatar size="150" /]