New here? Register. ×
×

Grafiti: Sebuah Bentuk Vandalisme Ekspresi Kenakalan Remaja

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in OPINI
14Jun
= 33

RUBERNEWS.COM | Tembok yang penuh dengan coretan di jalan-jalan protokol, bangunan yang tidak terpakai, tempat wisata, kantor swasta, maupun kantor pemerintah sudah menjadi pemandangan jamak yang sering kita temui hampir di seluruh pelososk negeri.

Aksi coret-coret ini disebut grafiti, fenomena ini muncul sebagai cara berkomunikasi sekelompok anak muda yang merepresentasikan sifat khas perilaku anak muda seperti suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer dan kesan berbeda. Banyaknya fenomena grafiti yang terjadi membuat masyarakat abai dengan fenomena ini dan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang wajar.

Grafiti diartikan sebagai coretan-coretan di dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kata, simbol atau kalimat tertentu. Grafiti awalnya berfungsi sebagai alat komunikasi perburuan pada zaman Primitif.

Grafiti juga digunakan sebagai sindiran terhadap pemerintah zaman Romawi Kuno. Namun pada pekembangan selanjutnya grafiti menemukan makna baru dengan tujuan yang berbeda, yaitu sebagai media eksistensi diri kawula muda yang ingin diakui keberadaannya.

Grafiti sering dikaitkan dengan aksi vandalisme, yaitu sebuah aksi yang bersifat merusak, baik itu fasilitas umum maupun barang milik pribadi. Vandalisme menurut Goldstein adalah sikap agresif terhadap orang maupun bangunan yang menggambarkan ketidakpuasan.

Vandalisme berasal dari kata vandal merupakan sebuah nama suku dari bangsa Jerman Kuno yang merusak karya seni bangsa Romawi seecara ganas pada saat perluasan wilayah kekuasaan mereka di Romawi.

Oleh sebab itu, dalam perkembangannya aksi merusak selalu dikaitkan dengan kata vandalisme yang merujuk pada suku Vandal tersebut. Sejatinya menurut Arnold P. Goldstein dalam buku The Psychology of Vandalism, ada beragam jenis vandalisme, yaitu: aksi corat-coret (graffiti), memotong (cutting) tanaman, merusak (destroying), mengambil (taking) dan sebagainya.

Aksi Vandalisme begitu dekat dengan isu kenakalan remaja. Kenakalan remaja itu sendiri diartikan sebagai perilaku remaja yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dan bersifat merugikan. Narkoba, merokok dan seks bebas menjadi tema yang paling sering di soroti dalam kenakalan remaja.

Sedangkan topik vandalisme di kalangan remaja sangat jarang disoroti, akibatnya masyarakat menganggap grafiti sebagai hal yang wajar dan tidak ada kaitannya dengan kenakalan remaja. Sehingga aksi grafiti terus merajalela memenuhi setiap sudut negeri dan sukses menjadi sampah visual yang dibiarkan begitu saja.

Sejatinya, masa remaja merupakan masa yang sangat rentan, karena di masa inilah proses pencarian jati diri terjadi. Remaja menginginkan pengakuan atas dirinya dari orang lain, untuk itu mereka akan menempuh berbagai macam cara dan tidak jarang mereka mengabaikan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Grafiti dipandang sebagai media penyalur kreatifitas yang cukup terjangkau. Melalui grafiti mereka mengekspresikan keinginan, perasaan dan diri mereka sesuai dengan keinginan mereka dan beranggapan bahwa hal ini cukup menarik dan menyenangkan.

Para bomber (pelaku grafiti) sering kali mengabaikan dampak dari perbuatan mereka, sehingga aksi mereka dianggap illegal dan tidak bertanggung jawab. Merujuk kepada definisi grafiti, vandalisme, dan kenakalan remaja, dampak yang ditimbulkan dari aksi ini tentu saja sangat merugikan.

Coretan-coretan ini  sangat mengganggu ketertiban dan kelestarian kota, tidak jarang sampah visual menjadi sebutan untuk coretan-coretan yang mereka anggap sebagai ekspresi seni ini. Aksi illegal ini bisa saja menjadi sumber pembengkakan dana untuk pembersihan kota. Kenyamanan masyarakat lokal juga para wisatawan dapat terganggu oleh hal ini.

Namun demikian, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi aksi ini, tentu saja kerjasama antara pemerintah, pihak sekolah dan orang tua sangat diperlukan. Lembaga pemerintahan dapat memberikan sanksi yang tegas terhadap aksi ini dengan menetapkan peraturan-peraturan berkaitan dengan grafiti.

Aksi grafiti para remaja sebaiknya difasilitasi dan diubah alirannya menjadi aksi mural atau pameran seni di bawah pengawasan pemerintah. Orang tua, hendaknya mendampingi anak-anaknya di usia ini, dan memberikan pengertian serta perhatian yang khusus sehingga aksi grafiti, vandalisme, dan kenakalan remaja lainnya dapat dikurangi.

Sekolah sebagai rumah kedua bagi para siswa, hendaknya menanamkan nilai moral yang kuat terhadap siswanya mengenai pemeliharaan fasilitas umum, cara mengekspresikan diri, aktifitas seni dan sebagainya, agar mereka memahami hak dan kewajibannya sebagai warga Negara yang baik.

Jika seluruh elemen masyarakat dapat melaksanakan fungsi dan kewajibannya dengan baik dan optimal, insyaAllah ketertiban akan lahir di negeri ini, dan seluruh remaja akan memangku perannya sebagai generasi muda yang berguna.

Penulis: Zahratul Fajri.

(Mahasiswi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala)

Sharing is caring

[avatar size="150" /]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *