New here? Register. ×
×

Kajian Tematik JSI; Krisis Qatar, Keruntuhan Proxy dan Ikhwanisme Indonesia

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in INTERNASIONAL, POLITIK
Tag:
  • Kajian Tematik JSI; Krisis Qatar, Keruntuhan Proxy dan Ikhwanisme Indonesia RUBERNEWS.COM
10Jun
= 2

RUBERNEWS.COM | Pemerintah Qatar dihukum Saudi dan sekutunya karena mendukung terorisme dan suka campur tangan urusan dalam negeri negara tetangga. Tuduhan itu, bagi Qatar, sangat tidak berdasar, bohong, dan rekayasa. Lepas dari benar-salahnya tuduhan itu, hukuman Saudi mengisolir Qatar tampaknya sudah mulai berefek pada sektor ekonomi kerajaan kecil itu.

Berbagai media massa melaporkan, Qatar saat ini mulai terancam krisis pangan, dua hari setelah jalur-jalur darat pasokan makanan ditutup oleh negara-negara jiran. Turki dan Iran memberitahukan Qatar, keduanya siap menggantikan peran Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, memasok kebutuhan pangan dan minuman rakyat Syeikh Tamim itu.

Iran hanya butuh 12 jam perjalanan laut untuk pengiriman bahan-bahan makanan ke pelabuhan Qatar. Bukan hanya itu, Iran mengizinkan rute udaranya dilalui 4 pesawat-pesawat sipil Qatar sejak kubu Saudi menutup semua jalur transportasi dari dan menuju Qatar. Respon Iran ini telah memperlemah narasi sektarian yang dipaksakan sekian lama untuk menjelaskan konflik berdarah Timur Tengah sejak rute musim semi Arab (Arab Spring) dibelokkan arah.

Dari revolusi rakyat menumbangkan rezim-rezim tiran, menjadi konflik mazhab. Krisis Qatar menjernihkan ulang polarisasi kekuatan politik Islam di kawasan itu, sekaligus memberikan bukti baru perang suni-syiah mitos belaka. Peran Turki, Iran, dan Arab Saudi dalam krisis Qatar menjelaskan tiga poros kekuatan regional yang sungguh wujud dan berkontestasi secara ketat di kawasan itu sejak musim semi Arab dimulai. Ketiga poros itu adalah Ikhwanisme (Ikhawanul Muslimin), Salafisme, dan Khomeinisme. Ketiganya bukan mazhab agama, tapi poros-poros politik.

Islam yang dibangun dari doktrin doktrin berbeda membentuk ideologi-ideologi baru dalam sejarah masyarakat Timur Tengah dan Afrika Utara. Di luar ketiganya, ada poros lain yang bertarung di kawasan itu, Zionisme. Juga bukan agama, sebuah doktrin politik yang setara dengan Salafisme, khomeinisme, dan Ikhwanisme. Pertama, poros politik Salafisme berpusat di Arab Saudi dan menancap pengaruhnya pada sejumlah kerajaan teluk (seperti UEA dan Bahrain), beberapa partai politik (seperti Partai An-nur di Mesir, Partai Ishlah di Yaman, dan Partai Front Reformasi di Tunisia), dan puluhan kelompok militan (seperti ISIS, Al-Qaida, An-Nushra) yang dimainkan dalam perang proxy di Suriah dan Irak. Ke dua, poros politik Ikhwanisme berpusat di Mesir dan menyebarkan jaringan politiknya ke berbagai negara berpenduduk Muslim.

Poros ini paling berpengaruh di Mesir, Turki, Tunisia, dan Palestina. Mereka memiliki kekuatan proxy berbeda di Suriah, seperti Free Syrian Army dan kelompok-kelompok pemberontak moderat lainnya dukungan Turki. Ke tiga, poros politik Khomeinisme berpusat di Iran dan memiliki jaringan politik terkuat di Libanon, Suriah, Irak, Bahrain dan Yaman.

Di masing-masing negara ini, Khomeinisme diwakili pasukan proxy yang berbeda, seperti Hizbullah (Libanon), Houthi (Yaman), Hashad Sya’bi (Irak), dan berbagai milisi di Suriah. Mereka punya pengaruh signifikan di Afghanistan dan Pakistan. Sedikit berpengaruh pada tetangganya, Azerbaijan, meski penduduknya 90 persen lebih bermazhab Syiah.

Memang, Syiah dan Khomeinisme dua hal yang berbeda. Syiah salah satu aliran teologi Islam, Khomeinisme adalah ideologi politik melawan monarkhi, zionisme dan imperialisme. Banyak penganut Syiah seperti warga Azerbaijan, mereka tidak terpengaruh dengan ideologi Khomeinisme. Tidak hanya di kalangan awam, banyak ulama Syiah di Iran sendiri yang menolak Khomeinisme.

Begitupun Ikhwanisme tidak diterima bulat di kalangan penganut Suni. Sebagian ulama AlAzhar Mesir menolaknya. Salafisme sebagai ideologi politik juga tidak mempengaruhi penganut wahabi dalam versi yang lebih moderat seperti di Oman.

Bagi saya, ideologi-ideologi politik ini harus dibedakan dari aliran agama, seperti kita mampu membedakan mazhab kristen ortodok Rusia dan Komunisme yang dianut sebagian warganya. Seperti kita harus membedakan Yahudi dari Zionisme. Sebelum Arab Spring, hubungan Ikhwanisme dan Khomeinisme lebih mesra dibandingkan hubungan keduanya dengan Salafisme.

Ini dapat dilihat dari dukungan Pemerintah Iran dan Hizbullah Libanon yang Khomeinis terhadap Hamas Pelestina yang Ikhwanis. Dari sudut lain, Salafisme pada dasarnya memusuhi Ikhwanisme dan Khomeinisme karena tiga alasan. Pertama, karena keduanya anti-monarkhi absolut sementara salafisme sendiri ideologi yang berkembang di negara-negara monarkhi teluk.

Ke dua, karena Ikhwanisme dan Khomeinisme melawan hegemoni imperialisme Amerika di negara-negara muslim, sementara Salafisme memilih jadi sekutu Amerika dan ke tiga, karena keduanya berjuang menghancurkan mimpi zionisme di kawasan tersebut saat Salafisme dalam banyak kasus berkongsi pandangan dan kepentingan dengan Zionisme Israel.

Pola hubungan demikian terus bertahan sampai perang saudara diledakkan di Suriah pada tahun 2011.Suriah menjadi titik balik, yang memisahkan poros Khomeinisme dari Ikhwanisme. Kubu Ikhwanis bergerak mendekat dan bergandengan tangan dengan Salafis menumbangkan pemerintahan Assad, sekutu dekat Iran. Hamas bahkan ikut mengkampanyekan perang anti-Assad setelah puluhan tahun bermarkas di Damaskus dan diberi fasilitas penuh oleh Pemerintah Suriah. Hamas pun memindahkan kantor pusatnya ke Doha, Qatar.

Beberapa negara yang dikuasai kubu Ikhwanis saat itu, seperti Mesir, Turki, dan Qatar bergabung bersama blok Saudi-Amerika-Israel menumbangkan Assad. Untuk beberapa saat terjadi semacam persenyawaan politik antara kaum Ikhwanis dan Salafis. Pilihan strategi ini disinyalir untuk menghilangkan kecurigaan Amerika atas kebangkitan Ikhwanisme yang mendapat panggung utama politik Timteng dalam musim semi Arab. Persenyawaan itupun berpengaruh sampai ke Indonesia. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang awalnya mewakili poros Ikhwanisme Indonesia kemudian sekaligus menjadi Salafisme.

Tensi krisis Qatar karenanya menimbulkan kecemasan di seluruh negara-negara muslim. Di Indonesia, para tokoh agama meminta pemerintah lebih aktif memediasi para pihak berkonflik, mempercepat rekonsiliasi QatarSaudi. Ironisnya, kecemasan kementrian luar negeri Indonesia terkait krisis Qatar lebih ke urusan ekonomi semata. Sebagaimana diungkapkan Menlu Retno Marsudi, Indonesia akan terkena dampak krisis Qatar, terpenting dan utama menyangkut perdagangan Indonesia-Qatar, Investasi Qatar di Indonesia, dan nasib 43 ribu pekerja Indonesia di Qatar.

Senada dengan pikiran pengamat politik Timur Tengah, Smith Alhadar, krisis Qatar dapat dilihat sebagai peluang peningkatan investasi besar-besar Doha di tanah air setelah diblokade para jirannya. Saya menduga, Kemenlu Indonesia belakangan ditugaskan, sejauh itu menyangkut hubungan kita dengan negara-negara Arab dan Timur Tengah, concern kita terfokus pada bisnis. Membuat negara-negara kaya minyak itu bersaing menginvestasikan uang mereka di Indonesia.

Kita merasa terlalu kecil untuk berdiri setara berbicara dengan pemerintah negara-negara Arab itu tentang masa depan politik dunia Islam. Apalagi menyangkut isu perlawanan terhadap kekuatan imperialisme yang pernah mengobok-obok negara negara Arab terus menerus pasca kalah perang enam hari di tangan Israel. Indonesia dapat membawa suara 207 juta muslim dan berbicara lebih keras di hadapan negara-negara kecil Arab yang bertikai itu.

Seperti Ahmad Soekarno melakukannya puluhan tahun lalu. Indonesia saat ini, menurut saya, memiliki cukup kekuatan politik untuk mempengaruhi haluan baru politik dunia Islam. Dimulai dari menghimpun kekuatan politik islam moderat dalam negeri, termasuk kelompok-kelompok berhaluan Ikhwanis yang dapat dipercaya. Dilanjutkan dengan membangun citra kepemimpinan politik Islam Indonesia melalui konferensi-konferensi internasional. Lalu diilengkapi dengan politik bantuan luar negeri kita kepada para penduduk miskin di negara-negara Arab seperti Yaman, Irak dan Suriah.

Sayangnya memang, Ikhwanisme Indonesia terlanjur disusupi Salafisme Saudi. Krisis Qatar mungkin tidak mampu membangunkan mereka dari keterlenaan lama. Kebencian beruratakar ditanamkan dalam tubuh Ikhwanis Indonesia oleh Salafis untuk memusuhi Khomein isme Iran dan Komunisme Cina telah menjebak mereka terperangkap di lini berseberangan dengan pemerintahan Jokowi yang cenderung mencari tempat dalam blok Rusia-Cina Iran akhir-akhir ini. Krisis Qatar dapat memisahkan Ikhwanisme dan Salafisme di negara-negara lain, tapi tidak di Indonesia.

Penulis: AFFAN RAMLI

Sharing is caring

[avatar size="150" /]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *