New here? Register. ×
×

PENAS = Penjajahan “pangan” Nasional

no comments
  • Penas XV 2017
11Mei
= 57

Banner-RuberNews-Media

RUBERNEWS.COM | Menurut teori Rostow (salah seorang ekonom dunia), dalam proses pembangunan ekonomi atau transformasi, kemajuan dan kemandirian sektor pertanian suatu negara, mempunyai peranan penting dalam masa peralihan sebelum mencapai tahap tinggal landas untuk menjadi negara industri maju. Peranan sektor pertanian tersebut berdampak pada jaminan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat pedesaan dan perkotaan agar mereka tidak kelaparan. Selain itu juga bisa menghemat devisa karena impor bahan pangan bisa dihindari.

Rostow juga menjelaskan, kenaikan produktivitas sektor pertanian akan memperluas pasar bagi berbagai kegiatan industri. Kenaikan tingkat pendapatan petani akan memperluas pasar industri barang-barang konsumsi, industri penghasil input pertanian seperti mesin dan pupuk. Kenaikan pendapatan di sektor pertanian ini akan menciptakan tabungan yang bisa digunakan oleh sektor lain sehingga dapat meningkatkan investasi pada sektor-sektor lain.

Terkait dengan masalah pertanian ini, pada tanggal 6-11 Mei 2017, Banda Aceh menjadi tuan rumah dari sebuah event berskala nasional khusus untuk petani dan nelayan yang bernama Pekan Nasional 2017 atau PENAS. Acara ini dibuka secara langsung oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo. Tema pokok dari PENAS 2017 tersebut adalah mewujudkan kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan. Acara ini juga dimeriahkan dengan pameran produk-produk dan tehnologi pertanian serta perikanan.

Apakah saat ini Indonesia sudah memiliki kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan ?

Penulis mencoba untuk menganalisanya dan berbagi informasi dengan para pembaca.

1. Ironi Negeri Agraris.

Saat ini Indonesia bisa dikatakan sebagai salah satu negeri yang mengalami defisit pangan. Ada beberapa komoditas utama hasil pertanian yang harus diimport untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, diantaranya beras, jagung, kacang kedelai, tepung terigu, gula, garam dan daging, bahkan hingga cabe dan bawang.

Menurut data statistik, rata-rata nilai import komoditas pertanian ini bisa mencapai puluhan triliun. Jika ditambahkan dengan import produk makanan dan minuman olahan, pupuk, obat-obatan pertanian, buah-buahan serta mesin atau tehnologi pengolahan pertanian, nilainya bisa mencapai ratusan triliun. Angka yang sangat fantastis untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dihasilkan sendiri. Angka tersebut juga diyakini bisa memberikan kontribusi sekitar 10% bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Import komoditas pertanian ini telah membuat Indonesia menjadi bergantung pada negara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menguncang neraca perdagangan Indonesia, karena semua barang import tersebut harus dibayar dalam kurs dollar dan secara tidak langsung ikut mempengaruhi keterpurukan nilai rupiah.

2. Kebijakan Pemerintah Terkait Sektor Pertanian.

Ada skenario yang sepertinya dengan sengaja dibuat oleh para pengambil kebijakan ekonomi di negeri ini, agar Indonesia menjadi negeri pengimport. Kebijakan import diyakini bisa mengelembungkan pundi-pundi kekayaan dari para importir dan pembuat kebijakan melalui sebuah konspirasi. Para importir yang membentuk kartel perdagangan bisa dengan mudah mengendalian pasokan dan harga komoditas pertanian di pasar dalam negeri. Adanya upaya dari pemerintah untuk mengadopsi konsep liberalisasi di sektor perdagangan dan pertanian telah membuat Indonesia semakin terjajah di sektor ekonomi.

Alokasi dana dari pemerintah untuk membangun sektor agraris ini juga dianggap masih relatif kurang untuk membuat Indonesia bisa mandiri dan memiliki kedaulatan di sektor pangan.

Perubahan fungsi lahan dan tidak adanya upaya proteksi dari pemerintah di sektor pertanian, juga ikut ditenggarai menjadi faktor yang melemahkan Indonesia untuk bisa menggapai kejayaan di sektor pangan.

Untuk memperjelas analisa tentang pangan ini, penulis mengilustrasikan bagaimana keadaan masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Pada saat mereka duduk di meja makan, kita menyaksikan bahwa nasi yang dihidangkan adalah beras import, ikan atau dagingnya  import dan buah-buahannya import.

Sebagian besar penghasilan mereka yang dipergunakan untuk konsumsi, digunakan untuk membeli produk-produk import.

Kembali ke teori Rostow, apakah Indonesia sudah memasuki masa tinggal landas untuk mencapai masa industri maju. Jawabannya masih belum.

Saat ini, Indonesia sepertinya mulai terjajah secara ekonomi. Indikatornya, hutang luar negeri yang semakin hari semakin bertambah nominalnya. Bukan hanya itu saja, secara pangan Indonesia juga sudah terjajah, di mana nilai import untuk sektor pangan setiap tahun terus bertambah.

Semoga PENAS yang sedang digelar di Banda Aceh, bukanlah sebuah bentuk gelaran seremonial belaka, tapi menjadi political will dari pemerintahan Joko Widodo untuk meningkatkan taraf hidup para petani dan nelayan Indonesia dan menjadi solusi jitu untuk mengatasi ketergantungan Indonesia terhadap import produk pangan dan pertanian.

Semoga PENAS yang telah mengeluarkan banyak biaya, bisa meningkatkan produktivitas buat para petani dan nelayan Indonesia. Terakhir, semoga PENAS bisa merubah stigma Penjajahan “pangan” Nasional.

PENULIS : BUCHARY, SE. Ak (PENGAMAT SOSIAL DAN POLITIK ACEH)

Sharing is caring

[avatar size="150" /]