New here? Register. ×
×

Ketika Mualem Dijadikan Korban Pencitraan Negatif

no comments
  • Pengamat Sosial Dan Politik Aceh (Bukhari, SE Ak)
05Mei
= 9

RUBERNEWS.COM | Kemajuan sebuah bangsa dapat diukur dari tingkat kebebasan masyarakatnya dalam menyampaikan ekspresi, baik secara lisan, tulisan maupun multi media. Kebebasan berekspresi ini, ternyata sering disalahgunakan oleh sebagian kecil masyarakat untuk kepentingan tertentu, misalnya untuk kepentingan pencitraan politik.

Pilkada DKI Jakarta adalah salah satu contoh ajang kebebasan dalam berekpresi, baik yang bersifat positif maupun negatif, khususnya dalam hal pencitraan. Kebebasan  ini telah membuat suasana ibukota menjadi gaduh dan hingar bingar dengan perang argumentasi dan kepentingan politik para kandidat dan pendukungnya yang bersaing, terutama di sosial media. Isu atau topik yang sering diangkat dalam perang ekspresi pada pilkada DKI cenderung bersifat negatif dan mengarah pada upaya perpecahan bangsa. Jelas, hal ini tidak baik dan perlu upaya dari berbagai komponen bangsa untuk meredam dampak dari kebebasan tersebut.

Selama kebebasan berekspresi bisa dipertanggungjawabkan dan tidak menimbulkan ekses yang bersifat negatif dan destruktif, mungkin saja kebebasan ini bisa dijadikan sebagai alat untuk menstimulasi kedewasaan sebuah bangsa, seperti yang sudah dijalani oleh negara-negara maju yang ada di belahan Eropa dan Amerika.

Baru-baru ini, beredar luas di sosial media, video tentang penghadangan mobil Wakil Gubernur Aceh saat melintas di kawasan Kutablang, Bireuen. Dalam video tersebut, terlihat jelas, mobil Honda CR-V berwarna putih milik Mualem, dihadang oleh sekelompok warga dan dipaksa memutar arah karena dianggap memasuki jalur yang salah pada jalan darurat pasca dibongkarnya jembatan di wilayah tersebut.

Jika dilihat dari sisi pemberitaan, ini adalah sebuah informasi yang layak untuk disebarluaskan dan diketahui oleh publik. Dalam video juga terlihat, mobil Mualem tidak memaksakan kehendak untuk melawan jalur yang salah tersebut, melainkan berputar atau berbalik ke arah kanan untuk kembali.

Sebagai pejabat publik, bisa saja Mualem memaksakan diri untuk menerobos jalur tersebut, apalagi jika didampingi oleh tim pengamanan tertutup yang menjadi bagian dari SOP pengamanan pejabat publik. Faktanya, mobil tersebut tetap berputar untuk kembali dan mematuhi kehendak warga setempat yang menganggap mobil Mualem telah memasuki jalur yang salah.

Ada contoh baik dan kedewasaan yang diperlihatkan dari video tersebut. Pertama, masyarakat Kutablang Bireuen telah menunjukkan sikap kepedulian untuk menjaga ketertiban di wilayah mereka dengan cara melarang kendaraan memasuki jalur yang salah demi menjaga kelancaran dalam berlalu lintas pasca dibongkarnya jembatan di Kutablang. Kedua, sebagai pejabat publik, Mualem juga mematuhi kearifan lokal dari masyarakat setempat dengan memutar balik kendaraannya, karena dianggap memasuki jalur yang salah.

Apakah permasalahan ini langsung selesai? Ternyata tidak.

Ada pihak-pihak tertentu yang berupaya menggiring opini dan membuat pencitraan negatif untuk Mualem dengan cara menyebarkan video ini di sosial media. Parahnya lagi, ada pihak lain yang juga ikut berkomentar secara negatif menyikapi permasalahan mobil yang balik arah tersebut.

Di satu sisi, jelas ini hak mereka untuk menyebarkan informasi dan juga untuk memberikan komentar, karena ini adalah bagian dari kebebasan berekspresi. Di sisi lain, opini dan komentar-komentar negatif yang tertuang di sosial media, telah sedikit mengungkap seperti apa kultur dan budaya kita sebagai orang Aceh. Penulis sedikit mengkhawatirkan, kondisi seperti ini tak ubahnya sebagai fenomena kecil dari tertularnya virus pilkada DKI Jakarta ke wilayah Aceh. Fenomena ini juga menjalar ke ranah politik, karena Mualem sebagai Ketua Partai Aceh juga dianggap berseberangan haluan dengan Irwandi Yusuf yang menang dalam Pilkada Aceh dan keduanya dianggap layak untuk dipertentangkan di sosial media.

Agar masalah tidak berlarut dan mereduksi peluang dari pihak lain yang ingin memancing suasana gaduh, ada baiknya bagi Mualem untuk sedikit memberikan klarifikasi melalui media dan jika perlu untuk membuat pernyataan maafnya, karena telah salah dalam mengambil jalur pada saat melintas di kawasan Kutablang. Hal ini penulis anggap penting, agar permasalahan ini bisa cepat selesai dan beliau tidak dijadikan korban pencitraan negatif oleh lawan politiknya. Selain itu, klarifikasi ini juga bisa digunakan untuk menunjukkan sebesar apa kapasitas dan jiwa kepemimpinan dari Mualem.

PENULIS : BUCHARY, SE. Ak (PENGAMAT SOSIAL DAN POLITIK ACEH)

Sharing is caring

[avatar size="150" /]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *