New here? Register. ×
×

Sebuah Pandangan Kritis Dalam Pemberantasan Buta Huruf

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in OPINI
  • RUBERNEWS.COM-Sebuah Pandangan Kritis Dalam Pemberantasan Buta Huruf
21Apr
= 23

RUBERNEWS.COM | Ada anggapan yang keliru terhadap orang yang buta huruf. Pertama buta huruf dianggap sebagai “racun” dan yang kedua buta huruf dianggap sebagai “penyakit” yang menular pada orang lain. Kadang-kadang juga dianggap sebagai “Bisul” yang menyengsarakan sehingga harus di “obati”. Akibatnya, buta huruf menjadi ukuran ketidakberdayaan (incapacity) suatu masyarakat, kekurangcerdasan (lack of intellegence) atau yang lebih sering terdengar menunjukkan sifat malas (laziness).

Maka dari itu, pemecahan masalah ini tergantung pada keleluasaan pengetahuan dan ketajaman analisa pihak-pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Jika pengetahuan mereka terbatas, mungkin karena mereka tidak mengerti (atau tidak mau mengerti), maka solusi yang diterapkan boleh dikata selalu bersifat mekanis. Pelajaran membaca direduksi menjadi tindakan mekanis untuk ‘menyetorkan’ kata-kata, suku kata dan huruf-huruf kepada orang yang buta huruf. Dengan ‘menyetor’ ini saja tidak cukup, apalagi jika nanti siswa mengetahui makna ‘magis’ dari sebuah kata lantas dia mengiyakannya begitu saja.

Kata-kata yang diajarkan kepada siswa layaknya mantra. Mantra itu dilafalkan dan merasuk kedalam dirinya, tetapi tidak dimengerti artinya karena orang hanya sekedar menirukan apa yang diucapkan dukun. Mantra ini juga selalu diulang-ulang, namun maknanya tidak berhubungan dengan kehidupan disekitarnya.

Sistem pendidikan yang pernah ada dan mapan selama ini dapat diandaikan sebagai sebuah “bank” (banking concept of education) dimana pelajar diberi ilmu pengetahuan. Jadi anak didik adalah obyeknya dan guru sebagai subyeknya. Mereka tidak diajarkan menjadi kritis, karena belajar bukanlah mengkonsumsi ide tetapi menciptakan ide

Teks

Dari sudut pandang metodologis atau sosiologis, buku-buku yang ditulis secara mekanis, betapa pun baiknya tidak dapat mengahapuskan ‘dosa aslinya’ sebagai alat ‘penyetor’ kata kata kepada siswa. Dan jika kemampuan mengajar dan kreativitas para guru itu rendah, berarti mereka senantiasa memelihara alat tersebut.

Hampir semua kata pada teks itu tidak berkaitan dengan pengalaman nyata siswa. Jika pun ada kaitannya, maka pengungkapannya begitu direkayasa dan paternalistik dan saya yakin sifatnya kekanak-kanakan.

Perlakuan seperti itu terhadap mereka yang buta huruf mengakibatkan munculnya persepsi yang distortif seolah-olah orang yang buta huruf itu berbeda sama sekali dengan orang yang membaca dan menulis. Distorsi ini menyebabkan tidak adanya pengakuan atas pengalaman nyata hidup dan pengetahuan yang telah mereka cari dari pengalaman hidupnya.

Sebagai makhluk yang pasif dan patuh, siswa-siswa ini terpaksa menerima ‘tranfusi’ secara terus menerus. Tentu saja apa yang mereka alami ini mengucilkan dirinya, sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa dalam proses tranformasi sosial.

Dengan menggunakan kata yang bermuatan ideologis, buku-buku itu justru semakin memperkuat budaya bisu yang telah menghinggapi kebanyakan orang. Buku semacam itu tidak dapat dijadikan alat transformasi sosial yang sesungguhnya .

Siswa

​Jika pendekatan pemberantasan buta huruf ini tidak bisa mempunyai kekuatan, paling tidak memberikan harapan kepada siswa. Sesungguhnya, kalau kita mau mengamati secara kritis, bukan buta huruf yang ‘borok’, juga bahkan ‘racun’ yang harus dibuang. Buta huruf bukan berakar pada persoalan linguistik yang besar, atau persoalan persoalan pendidikan, atau metodologis yang eksklusif, tetapi akarnya adalah persoalan politik, karena melek huruf itu sebagai buah dari kampanye pemberantasan buta huruf; sebuah upaya mencerdaskan yang naif atau licik itu secara substansial justru melanggengkan kekuasaan.

​Jadi sebenarnya progam yang kritis untuk mengatasi buta huruf bukanlah mengajarkan bagaimana mengulang-ngulang secara mekanis bunyi-bunyi berikut pa,pe,pi,po, dan seterusnya. Program ini seharunya membangkitkan kesadaran siswa akan hak-haknya selaras dengan kesadaran keberadaan mereka di dunia ini.

Pemberantasan Buta Huruf Yang Transformatif

​Siswa yang terus melatih cara berfikirnya dengan selalu mencermati persoalan dalam kehidupan mereka dan menganalisanya secara kritis, maka mereka akan lebih diakui dunia.

​Pemeberantasan buta huruf yang demikian selalu melibatkan siswa dengan kehidupan nyata atau hubungannya dengan orang lain. Siswa belajar pada pengalaman sosialnya untuk meningkatkan kemampuan dirinya dalam rangka melakukan transformasi; ini merupakan tindakan praktis. Sebagai ‘aktor’ mereka melakukan transformasi dengan cara menekuni pekerjannya masing-masing atau menciptakan dunianya sendiri. Dunia yang mereka ciptakan atau hasil tranformasi adalah mestinya lebih berbudaya dan menyejarah

Penulis Mirza Maulana, Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Dan juga Menteri Polhukam DEMA UIN Ar Raniry.

Sharing is caring

[avatar size="150" /]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *