New here? Register. ×
×

Koalisi Atau Oposisi Untuk Partai Aceh

no comments
Written by Redaksi 4 | Published in DAERAH, EDITORIAL, OPINI
  • Pengamat Sosial Dan Politik Aceh (Bukhari, SE Ak)
21Apr
= 13

RUBERNEWS.COM | Istilah koalisi atau oposisi adalah kecenderungan untuk bergabung (berkoalisi) atau berseberangan (beroposisi) dengan pemerintah dalam suatu negara yang menganut sistem parlementer dengan multi partai.

Di Negara Republik Rakyat China (RRC), hanya menganut sistem partai tunggal yaitu hanya ada partai komunis, tidak mengenal istilah koalisi atau oposisi. Sedangkan di Amerika yang mengadopsi sistem 2 partai yaitu Demokrat dan Republik, jika salah satu partai pengusung Presiden menang, maka partai yang kalah otomatis menjadi partai oposisi.

Sistem pemerintahan di Aceh yang memperbolehkan adanya partai lokal, menjadikan Aceh sebagai satu-satunya Provinsi di Republik Indonesia yang memiliki keunikan dalam dunia politik tanah air. Partai Aceh (PA) adalah salah satu partai lokal yang menang dalam pemilu legislatif 2014 dan berhasil meraih 29 kursi DPRA dari total 81 kursi yang diperebutkan.

Jumlah kursi yang terbilang banyak di parlemen ternyata tidak identik dengan dukungan suara pada saat Pilkada lalu, dimana calon yang diusung oleh PA dan partai pendukungnya yaitu Muzakir Manaf dan T.A. Khalid kalah dari pasangan Irwandi–Nova.

Pasca Pilkada Aceh 2017, terdengar isu adanya ketertarikan PA untuk berkoalisi dengan pemerintahan Irwandi–Nova, khususnya setelah muncul statement dari ketua fraksi PA di DPRA untuk mendukung pemerintahan Irwandi –Nova. Sayangnya, statement dari ketua fraksi PA ini langsung ditanggapi oleh pimpinan PA sebagai pernyataan pribadi dan bukan keputusan partai. Kasus ini membuat publik dan para pengamat bertanya, kemana arah kebijakan politik PA pasca Pilkada ini, berkoalisi atau beroposisi.

Mari kita kaji keuntungan dan kerugian bagi PA jika mereka berkoalisi maupun beroposisi dengan pemerintahan Irwandi–Nova di kemudian hari.

Keuntungan PA Jika Berkoalisi

  • Sesuai dengan Visi dan Misi partai, yaitu untuk membangun citra positif dalam kehidupan politik. Hal ini jelas akan meredam dan mengurangi tensi politik yang mungkin saja bisa memanas baik di tingkat elite maupun di tingkat bawah.
  • Menjamin pemerintahan yang efektif, khususnya dalam merumuskan, membuat kebijakan, mengelola dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan publik, demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Aceh.
  • Kemampuan untuk mempertahankan orang-orang atau simpatisan PA dalam pemerintahan Irwandi–Nova, sebab koalisi bukan berarti memberikan dukungan saja tapi juga berbagi kekuasaan dan kewenangan.
  • Adanya bargaining power dari PA untuk menyelipkan kebijakan partainya dalam kebijakan umum yang dibuat oleh pemerintah.

Kerugian PA Jika Berkoalisi

  • Lunturnya ideologi dan platform politik partai yang dianggap kalah oleh bujukan dan daya tarik kekuasaan.
  • Dampak tidak langsung jika pemerintahan ke depan ternyata mengalami kegagalan dalam menjalankan amanah dan pembangunan.
  • Keberhasilan Pemerintahan Aceh ke depan bisa dianggap sebagai prestasi pribadi dan menafikan dukungan dari partai koalisi.
  • Anggapan di mata masyarakat Aceh bahwa PA adalah partai yang dianggap kurang berkwalitas.

Keuntungan PA Jika Beroposisi

  • Menjaga konsistensi terhadap ideologi dan marwah PA di mata para simpatisan dan pendukungnya untuk tetap menjadi partai terhormat dan bermartabat.
  • Menjadikan fungsi pengawasan di parlemen berjalan secara efektif terhadap semua kebijakan publik yang dilakukan oleh pemerintahan Irwandi–Nova.
  • Menjadikan model konsep oposisi bagi partai lain di masa yang akan datang.
  • Menjaga sikap kritis dan korektif terhadap pemerintahan Aceh, karena sistem demokrasi yang sehat membutuhkan adanya penyeimbang di parlemen.

Kerugian PA Jika Beroposisi

  • Kehilangan kekuasaan politik dan terhambatnya PA untuk memperoleh akses-akses ekonomi, khususnya untuk pembiayaan partai.
  • Belum tentu sesuai dengan apresiasi masyarakat Aceh dan beresiko menimbulkan kerugian secara politik.
  • Menjaga dan memperkeruh persaingan politik antara petinggi PA dan Irwandi secara pribadi yang merupakan sesama mantan elite GAM.

Berdasarkan dari analisa di atas, sudah sepatutnya bahwa keputusan untuk berkoalisi atau beroposisi perlu dipertimbangan dengan matang. Keputusan ini bukan hanya diskresi dari pimpinan PA saja, tapi harus juga mengapresiasikan keinginan dari arus bawah, khususnya para simpatisan dan pendukung PA.

Sinyal-sinyal politik dari kubu Irwandi–Nova juga bisa dijadikan sebagai batu pijakan dalam mengambil sikap dan keputusan untuk berkoalisi atau beroposisi.

Intinya, semua keputusan bisa dianggap sebagai keputusan terbaik di mata masyarakat jika hal tersebut dilakukan demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat Aceh.

PENULIS : BUCHARY, SE. Ak (PENGAMAT SOSIAL DAN POLITIK ACEH)

Sharing is caring

[avatar size="150" /]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *