New here? Register. ×
×

Berpikir Secara Reflektif Fakta Sejarah Tentang Kepemimpinan Wanita Terkait Pilkada 2017

no comments
Written by Redaksi | Published in SURAT PEMBACA
05Sep

Pemimpi wanitaRubernews.com — Penulis adalah pengagum perempuan karena sadar bahwa perempuan rela mempertaruhkan hidupnya demi kehidupan yang lain, setidaknya begitulah para ibu ketika menghadirkan kita diatas muka bumi ini. Panggilan seorang ibu pun beragam dan tidak ada keharusan memanggil ibu, kita boleh memanggil mamak, emak, umi, bunda, ataupun nama lain yang subtansinya sama.

Kisah kita memang bermula dari perjuangan seorang perempuan hebat yang terkadang didalam kehidupan sering mengalami pendiskreditan dalam segala hal, mulai dari urusan politik hingga urusan agama perempuan mengalami hal tersebut. Padahal agama-agama monoistik sangat menjunjung tinggi perempuan dan negara kita merupakan negara mayoritas monoistik sehingga fenomena diskriminatif kiranya tak pantas dialamatkan kepada perempuan.

Diskriminasi yang dialami perempuan merupakan dampak dari budaya paternalistik yang masih kuat didalam masyarakat kita sehingga perempuan masih menjadi second-civilization dalam aspek berbangsa dan bernegara. Realitas tersebut menempatkan perempuan sebagai penerima sebuah keputusan tanpa sedikitpun diberi kesempatan untuk membuat keputusan sendiri bahkan yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

Ada ketidak ikhlasan bila perempuan menempati posisi strategis apalagi politis dinegara kita, hal itu bisa kita saksikan ketika Megawati menjadi kandidat Presiden. Pada saat itu ayat-ayat (QS. An Nisaa’ : 34) (QS. Al Baqarah: 228) (QS. Yusuf : 109) menjadi begitu populer dihembuskan sebagai bahan kampanye politik dan beberapa ulama secara personal mengeluarkan fatwa sehingga sangat mempengaruhi opini masyarakat kita.

Berkaca dari realitas belakangan ini yang menggunakan dalil nash agama (Islam) tentang ketidakbolehan perempuan menjadi kepala daerah hingga Presiden sedikit menggoda penulis untuk kembali mengajak kita semua berpikir secara reflektif sekaligus analitik sehingga tidak cenderung memaksakan pemahaman dan menyebarkan sebagai sebuah kewajiban penolakan terhadap pemimpin perempuan.

Berpikir secara reflektif berarti kita melihat history-fact (fakta sejarah) tentang kepemimpinan perempuan terutama terkait pilkada 2017 mendatang di negeri syariat Islam (Aceh). Daerah paling ujung Sumatera ini (Aceh) yang terkenal sangat kental dengan nilai agama dan adat ternyata pernah dipimpin perempuan dan seperti halnya saat ini telah terjadi debat panjang menyoal kepemimpinan perempuan hingga Ulama besar pada saat itu Nurudin Ar-Raniri membolehkan Ratu Safiatud-din Tajul-’Alam yang memiliki arti “kemurnian iman, mahkota dunia, menjadi pemimpin. Bila kita merefleksikan perjalanan kepemimpinan Aceh maka akan kita temukan beberapa pemimpin perempuan bahkan pemimpin perang.

Setelah berpikir reflektif selanjutnya mari kita berpikir analitik, mempertanyakan atau menyoal kepemimpinan perempuan, Khilafiyah fiqh seputar dalil nash kepemimpinan perempuan ternyata menjadi keharusan sejarah yang tak bisa dihindari namun jangan sampai memecah belah Ummat. Ada tesis membolehkan dan anti-tesis mengharamkan maka harus kita temukan sintesa kedua pendapat tersebut sebagai solusi kemaslahatan bersama, tentu saja bila kita tidak terinfiltrasi propaganda yang bisa memecah belah kita.

Perbedaan pendapat ulama fiqh dalam menafsirkan nash Al-Qur’an dan Hadist dalam penetapan hukum sesuatu bukanlah absolut truth sebagaimana banyak kasus kita temukan. Landasan ini setidaknya memberi ruang bagi kita untuk memilih berdasarkan akal dan ilmu kita, seperti metode penetapan 01 Syawal misalnya, selalu terjadi khilafiyah disana dan Ummat dibolehkan memilih demikian pula dengan kasus kepemimpinan perempuan yang sekarang sedang terjadi di Kota Banda Aceh.

Suksesi kepemimpinan Kota Banda Aceh yang menampilkan kandidat perempuan juga menyisakan polemik antara tesis membolehkan dan anti-tesis yang mengharamkan walaupun nash-nash yang mengharamkan sebenarnya samar dan tidak terkait namun penulis tidak ingin terjebak kedua kesimpulan secara serampangan dan memihak. Dalam hal ini pisau analisis Hegel sangat berguna dalam memberi solusi dengan konsep sintesanya.

Yusuf Qardhawi kemudian menawarkan sintesa seksi dan menarik, beliau berpendapat bahwa tidak ada larangan perempuan berprofesi apapun termasuk jabatan dalam pemerintahan namun perempuan tidak boleh meninggalkan tugas utama seorang bunda pada anaknya serta tidak melakukan pelanggaran syariah dalam pelaksanaan tugas, baik perkataan maupun tindakan. Sintesa yang ditawarkan Qardhawi sepertinya jalan tengah yang patut kita ambil sehingga polemik penafsiran apalagi didasari kepentingan politik pragmatis tidak membuat Ummat bingung. Sekali lagi kita masih jalan ditempat, kita hanya memperdebatkan sesuatu yang tidak produktif, sebuah taqdir gender yang dibawa lahir seorang perempuan.

Kaum lelaki semakin tak percaya diri menghadapi perempuan di arena politik sehingga membawa kasus khilafiyah ke ranah politik lalu menyebarkannya sebagai propaganda. Apakah lelaki sudah “impoten” visi sehingga persoalan klasik yang sudah disepakati sebagai khilafiyah harus kembali diangkat dan dijadikan isu kampanye politik. Berdasarkan amatan penulis setiap malam minggu dan senin para lelaki penggemar sepakbola selalu menyaksikan Liga Inggris yang merupakan liga terbaik saat ini, seharusnya mereka belajar sejarah bagaimana Inggris dan liganya bisa demikian berkembang dan maju.

Apakah Inggris pernah dipimpin Perempuan hebat? mengapa Inggris bisa sedemikian maju secara ekonomi, tentu saja ada sosok Bunda Margareth Thatcher yang pernah menyentil kaum laki-laki dengan kalimat “If you want something said, ask a man. If you want something done, ask a woman, sebuah pernyataan yang dikemudian hari dibuktikan dengan kinerjanya bukan sekadar retorika dari kebanyakan laki-laki. Bunda Risma (Walikota Surabaya) dan Illiza (Walikota Banda Aceh) merupakan contoh lain dari kepemimpinan perempuan, keduanya setidaknya mencoba menghapus stigma negatif bahwa perempuan tidak mampu menjadi pejabat publik.

Sudah saatnya para kontestan kenduri politik 2017 di Kota Banda Aceh mengedepankan visi dan misi dalam masa kampanye serta menyingkirkan kampanye negatif yang masih samar. Silahkan saling mengkritisi visi dan misi namun tidak menjurus fitnah agar benturan pendapat menghasilkan kebaikan bagi rakyat sehingga terciptalah kota madani, sebuah peradaban mapan iman, intelektual, ekonomi dan alat produksi lain. Mari berIslam, berAceh dan berIndonesia dan sediakan ruang untuk perbedaan pendapat dan paham serta selalu ada senyum dan cinta diantara kita. Perempuanku, Perempuanmu dan Perempuan kita adalah seorang bunda yang berjihad dalam proses kelahiran kita, salam cinta untuk bunda diseluruh dunia.

(Penulis : Don Zakiyamani – Komisioner KPK “Komunitas Pecinta Kopi” – Banda Aceh)

Sharing is caring